Sie sind auf Seite 1von 67

NEUROLOGI

Oleh : Jipi Eka, dr


Headache
Oksigen
Stroke

 STROKE:
 SINDROM DEFISIT NEUROLOGIS,
 PROGRESIF MENDADAK
 DURASI > 24 JAM,
 KARENA CEREBROVASCULAR DISEASE
 TIA: PULIH < 24 JAM (<30MENIT)
 KLASIFIKASI
 ISKEMIK
 HEMORAGIK
 PENUNJANG
 CT SCAN
MANAGEMENT STROKE

 Airway important for


 Breathing oxygenation
 Cardiovascular system : maintenance CBF

►Don’t treat BP if :
- Infarction : < 220 / 120 mmHg
- Hemorrhagic : < 180 / 105 mmHg
( reactive Hypertension in acute phase)
 Water and electrolyte balance :
- Infus : isotonic water haemodilution,
- Maintenance input, food and drink,
- Diet : basal metabolism 1500 cal.
( 23 cal/kg/weight ) : orally or NGT.
- Output Control

 Brain edema ( impending / herniation )


- Give anti-edema (mannitol 20%),
- Max for 5 days ( rebound phenomen prohibition)
 Signof impending herniation :
- Decrease of consciousness
- Pupil miosis and reactive
- Cheyne’s stokes respiration
- Bilateral Babinski (Pathologic Reflex)

 Signof Herniation :
- Decrease of consciousness
- Pupil anisocor
- Central Neurogenic Respiration
- Bilateral Babinski
 Manitol Contraindication :
- Hipotension
- Renal Impairment
- Dehydration
- Decompensatio Cordis

 Head elevation 300

 Hyperglycemia : if > 250 mg% give


antidiabetic

 Control Complication and Underlying disease


 Control Vegetative Function.

 Passive Physiotherapy
- as soon as possible for preventing
contracture, thrombophlebitis ( DVT ),
decubitus

 Active Physiotherapy
- If No complication - Contraindication
 Secondary prevention :
♦ Antiplatelet agent
a. Asetilosalysilic acid ( ASA )
(cyclooxygenation enzyme inhibitor)
 decrease tromboxan A2,
 Inhibit platelet agregation
Dose ( Varied ) : 80-250 mg/days
b. Clopidogrel : 1 x 75 mg
 Cardio-embolic Infarction Prevention

- Anticoagulant :
first : heparin iv,
continue with : oral anticoagulant
(Coumarin)
 Recanalization thrombosis :
- rTPa (Streptokinase, Urokinase)
Complication : bleeding
dose : 0,9 mg/KgBB MAX 90 mg

 Inhibition Vasospasme :
(SAH Complication)
♦ 2 - 3 days after onset
- Clinically worsening,
- Decrease level of consciousness
- Neurological deficit

NEUROPROTEKTOR (TIDAK WAJIB!) :


CITICOLIN 2X1000 mg IV DILANJUT 2x1000 PO 3 MGG
TIA dan RIND

a. Etiologi : iskemia otak yang tidak menyebabkan infark


b. Tampilan klinis :
• Transient ischemic attack : Defisit neurologis akut yang
membaik/kembali menjadi normal dalam waktu 24 jam.
• Reversibel ischemic neurologic deficit : Gejala berlanjut
melewati 24 jam, tapi membaik dalam 72 jam setelah onset
c. Tatalaksaria : Aspirin atau clopidogrel. Tujuannya adalah
mencegah terjadinya stroke, karena risiko stroke
meningkat pada TIA.
 Progressing stroke atau SIE (stroke in evolution)
Gejala neurologik yang makin lama makin berat.
Pada sistem karotis perburukan berlangsung
sampai 48 jam, pada vertebrobasiler sampai 72
jam
 Completed stroke
Gejala klinis sudah menetap.
AFASIA
Afasia : Permasalahan dalam Bahasa
• Afasia terbagi tiga yaitu :
1. Afasia motorik (area Brooca) : kesulitan berkata-
kata tetapi dapat mengerti pembicaraan
2. Afasia sensorik (Wernicke aphasia) : pasien sukar
mengerti komprehensi pembicaraan orang , tetapi
mudah mengucapkan kata, tanpa adanya gangguan
pendengaran.
3. Afasia Campuran

Sumber : Merrit’s Neurology


Bell's palsy
a. Etiologi : paralisis akut nervus VII perifer unilateral, biasanya
karena terkena angin/udara dingin dalam waktu lama
b. Tampilan klinis: dahi dan pipi tidak bisa digerakkan, kelopak
mata tidak bisa menutup (lagoftalmus), bibir tertarik ke sisi
yang sehat
c. Tatalaksana Bell Palsy:

 Steroid : 10 hari. 6 hari prednisolon 1mg/kgbb/hari atau 60


mg/hari, 4 hari sisanya tappering off
 artificial tears untuk mata yang lagoftalmus
 Acyclovir 5x400mg oral selama 10 hari
VERTIGO
2.Terapi Farmakologi
I. ANTIVERTIGO
Vestibular Suppressant
1. Ca antagonist : Flunarizin 3x5mg
2.Vasodilator : Betahistine 3x6mg
3. Tranquilizer : diazepam, haloperidol
4. Antihistamin : Difenhidramine
5. CNS stimulant: ephedrin, amphetamin
II. ANTIEMETIC
1. Anticholinergic : atropine, scopolamine
2. Antidopaminergic: : Prochlorperazine, metoclopramide.
III. Psychoaffective
Clonazepam, diazepam untuk anxietas dan panic attack
EPILEPSI
 DEFINISI
 2 KEJADIAN KEJANG TANPA PROVOKASI YANG TERPISAH >
24 JAM
 1 KEJADIAN KEJANG TANPA PROVOKASI, NAMUN RISIKO
KEJANG SELANJUTNYA SAMA DENGAN RISIKO REKURENSI
UMUM SETELAH DUA KEJANG TANPA PROVOKASI DALAM 10
TAHUN
 SINDROM EPILEPSI (EEG)
 ETIOLOGI :
 IDIOPATIK  PREDISPOSISI GENETIK
 KRIPTOGENIK  BELUM JELAS PENYEBABNYA
 SIMPTOMATIK  LESI PADA CNS, CEDERA OTAK./SOL
 KLASIFIKASI
 FOKAL/ PARSIAL
 UMUM
Absence/lena/petit mall
Klasifikasi
Mioklonik
Atonik
umum
Tonik
Klonik

Kejang Tonik-klonik /grand mall


Simple :
Tanpa penurunan kesadaran
Kompleks :
Parsial
Dengan penurunan kesadaran
Parsial yang menjadi umum
sekunder
 TATALAKSANA (DOSIS)
 KARBAMAZEPIN 800 – 1200 mg/HARI PO DIBAGI
3-4 DOSIS (PALING AMAN PADA IBU HAMIL)
 FENITOIN 300 – 600 mg/HARI PO DIBAGI 1-2
DOSIS
 FENOBARBITAL 90 – 120 mg/HARI; DIMULAI 60
mg/HARI PO DINAIKKAN 30 mg TIAP 2-4 MGG
 ASAM VALPROAT 400 – 2000 mg/HARI DIBAGI 1-2
DOSIS
 ETHOSUXIMIDE (KHUSUS ABSANS) 500 mg PO
Efek samping fenitoin
congenital anomalies, hepatic necrosis, ataxia, confusion,
constipation, depression, dizziness, drowsiness, fatigue,
hypertrichosis, mental status changes, myasthenia,
nervousness, numbness, tremor, tremor of hands, vertigo,
excitement, irritability, mood changes, and restlessness

Efek samping carbamazepin


ataxia, dizziness, drowsiness, nausea, and
vomiting, pruritus, speech disturbance,
amblyopia, and xerostomia
KONDISI EKSASERBASI
ASAM VALPROAT
Congenital anomalies, infection, abdominal pain, asthenia,
drowsiness, nausea, tremor, vomiting, alopecia, diarrhea,
dizziness, flu-like symptoms, thrombocytopenia, and
anorexia, dyspnea, pharyngitis, tinnitus, abnormality in
thinking, amnesia, ataxia, bronchitis, constipation, depression,
fever, nystagmus, peripheral edema, weight gain, and weight
loss

Fenobarbital
Residual sedation, drowsiness, lethargy, vertigo, nausea,
vomiting, headache.

Clonazepam
drowsiness., upper respiratory tract infection, ataxia,
depression, and dizziness
Epilepsi refrakter
Epilepsi refrakter adalah epilepsi dengan bangkitan berulang,
meski telah tercapai kadar terapi OAE dalam satu tahun
terakhir setelah awitan.

Bangkitan tersebut benar-benar akibat kegagalan OAE untuk


mengkontrol focus epileptic, bukan karena dosis yang tidak
tepat, ketidaktaatan minum OAE, kesalahan pemberian atau
perubahan dalam formulasi. Sekitar 25-30% penyandang
akan berkembang menjadi epilepsi refrakter.
HERNIA NUCLEUS PULPOSUS
• TATALAKSANA  INJEKSI STEROID +
PENGGUNAAN BIDAI SAAT TIDUR +NSAID
Klasifikasi tetanus berdasarkan target organ
 Tetanus generalisata : hipertonus otot, spasme,
trismus, kaku leher, baju, exkstremitas, papan
abdomen, risus sardonicus, opistotonbus,
spasme otot pernafasan (seluruh tubuh)
 Tetanus lokal : kaku, kencang, nyeri otot
disekitar luka, spasme,twitching pada otot yang
luka
 Tetanus sefalik : bila terjadi luka pada wajah atau
kepala, paralisis pada otot2 wajah
PARKINSON DISEASE
Definisi degenerasi ganglia basalis terutama di substansia nigra pars
kompakta (SNC) yang disertai adanya Lewy bodies sehingga menyebabkan
penurunan kadar dopamin

Gejala :
1.Tremor : resting tremor dan pill rolling (pola seperti menghitung koin)
2. Rigiditas : hipertoni pd seluruh gerakan, fenomena roda bergigi
(cogwheel phenomena)
3. Akinesia/bradikinesia-hipokinesia : gerakan volunter menjadi lambat dan
sulit
4. Ketidakstabilan Postur dan gait

Pengobatan :
Tremor dominan (+) : antikolinergik, pramipexole
Tremor dominan (-) : levodopa
RABIES
 INKUBASI BERVARIASI (3 – 8 MINGGU)
 MANIFESTASI:
 PRODROMAL NONSPESIFIK (1-4 HARI)
 SENSORIS: PANAS, NYERI BEKAS LUKA; CEMAS DAN
RANGSANG BERLEBIH
 NEUROLOGIK AKUT (2-7 HARI)
 EKSITASI: HIPER-HIPER, HIDROFOBIA, HIPERAKTIF, HALUSINASI, DLL
 PARALITIK: PARALISIS EXT YG DIGIGIT, KAKU KUDUK
 KOMA (DISFUNGSI BATANG OTAK)
 TATALAKSANA
 TIDAK ADA
 LEUKOSITOSIS, ALBUMINURIA, ISOLASI VIRUS PADA
AIR LIUR, CSF DAN URIN PADA MGG PERTAMA
 PENANGANAN LUKA
 CUCI LUKA DGN AIR MENGALIR DAN SABUN 10 – 15
MENIT
 ALKOHOL 70%/ANTISEPTIK
 PENCEGAHAN
 RISIKO RENDAH → VAR (VAKSIN ANTI RABIES)
 REGIMEN ESSEN (WHO): 0,5 mL HARI 0,3,7,1,4,28
 REGIMEN ZAGREB (KEMENKES RI): 0,5 mL HARI 0,7,21
 RISIKO TINGGI → SAR (SERUM ANTI RABIES)
 20 IU/KgBB DOSIS TUNGGAL (1/2 INFILTRASI, 1/2 IM)
 PROFILAKSIS
 VAR 1 mL IM HARI 0,7,28 DGN DOSIS ULANG SETELAH 1 TAHUN
SETIAP 5 TAHUN
KEJANG DEMAM
Definisi  Kejang disertai demam dan batas usia harus 6 bulan - 5 tahun

Tatalaksana kejang demam :


1. Pemberian obat saat demam
a. Antipiretik
b. Antikonvulasan (pengobatan intermitten)
Diazepam 0,3-0,5 mg/kgBB/8 jam selama demam (2-3 hari)
Fungsi : menurunkan risiko berulangnya kejang demam
2. Pengobatan Kejang
3. Pengobatan Rumatan
Hanya untuk kejang demam dengan indikasi tertentu.
a. kelainan neurologis nyata
b. Kejang lama (>15 menit)
c. kejang fokal
d. kejang demam yang sering berulang atau tinggal jauh dari
fasilitas kesehatan

Obat Rumatan :
1. Asam valproat 15-40 mg/kg BB dalam 2-3 dosis ( ES : reaksi
hepatotoksik pada usia < 2 tahun) atau
2. Phenobarbital 3-4 mg/kg/hari. (ES : risiko hiperaktivitas dan IQ
)
Diberikan terus menerus selama 1 tahun bebas kejang kemudian
dihentikan bertahap selama 1-2 bulan
Seizure neonatus nelson protocol
Trigeminal neuralgia

a. Gejala : nyeri di wajah yang berat seperti


ditusuk, seperti terbakar, mengikuti
persarafan nervus V (trigeminal).
Diperparah ketika menggosok gigi atau
membasuh wajah
 Tatalaksana :
 Carbamazepine (100-600mg/hari), atau
 Gabapentin 1200 mg- 3600mg/hari, atau
 Fenitoin 200-400 mg/hari
NEUROPATI
Neuropati adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi-kondisi
yang terkait dengan kelainan pada fungsi saraf. Kata neuropati itu
sendiri berarti gangguan saraf. Saraf-saraf yang ada di seluruh tubuh
dapat mengalami gangguan akibat penyakit tertentu maupun cedera.

 Neuropati perifer
Kondisi ini terjadi ketika gangguan atau kelainan saraf memengaruhi
saraf di luar otak dan saraf tulang belakang. Dengan kata lain,
neuropati perifer memengaruhi saraf-saraf pada anggota gerak,
seperti lengan, tungkai, tangan, kaki, dan jari

 Neuropati otonom
Kondisi yang muncul akibat kerusakan pada sistem saraf involunter.
Sistem saraf ini mengendalikan detak jantung, sirkulasi darah, sistem
pencernaan, respons seksual, keringat, dan fungsi kandung kemih
 Neuropati kranial
Kondisi di mana terjadi kerusakan pada salah satu dari 12
saraf kranial (saraf di bagian kepala)

 Neuropati fokal atau mononeuropati


Kondisi yang hanya memengaruhi satu saraf, satu kelompok
saraf, atau saraf pada salah satu bagian tubuh seperti paha,
kaki, lengan, otot mata, atau dada. Kondisi ini umumnya
dipicu oleh penyakit diabetes, dengan gejala yang muncul
secara mendadak
MENINGITIS
 INFEKSI LAPISAN MENINGEN
 A: DEMAM, PENURUNAN KESADARAN, KAKU
KUDUK (TRIAD)
 PF: KAKU KUDUK (+) TANDA RANGSANG
MENINGEAL (+) KERNIG (+) BRUDZINSKI 1 DAN
II (+)
 ANALISI CSF
BAKTERI VIRUS TB

WARNA KERUH JERNIH XANTOKROM


LEUKOSIT LEUKOSIT ↑↑ > 1000 LEUKOSIT < 100 VARIABEL

SEL NETROFIL LIMFOSIT LIMFOSIT

PROTEIN PROTEIN ↑↑ PROTEIN NORMAL PROTEIN ↑ SEDIKIT

GLUKOSA GLUKOSA RENDAH GLUKOSA NORMAL GLUKOSA RENDAH


TERAPI

DITAMBAH DEXAMETASON UNTUK YANG MENINGITIS BAKTERIAL


ENSEFALITIS

 ETIOLOGI  VIRUS , TOXOPLASMA, dan TB


(MENINGOENSEFALITIS TB)
 DEMAM, KEJANG, KESADARAN MENURUN
(TRIAD)
 RANGSANG MENINGEN (-)
 PENUNJANG: CSF + PCR
 TERAPI  TERGANTUNG PENYEBAB
Ensefalitis TOKSOPLASMA
 Etiologi : Toxoplasma gondii, parasit intraselular
yang 80% asimptomatik pada individu sehat.
Namun mematikan pada yang HIV
 Karakterisitik : demam, nyeri kepala, defisit
neurologis bersifat progresif 1-4 minggu, lesi
hipodense pada CT-Scan
 Pengobatan : fase akut (3-6mnggu) : Pirimetamin
3x25mg po + klindamisin 4x600mg+leukovorin
4x600mg/hari, fase rumatan : pirimetamin dan
klindamisin ½ dosis dari awal
MENINGITIS DAN ENCEPHALITIS
PERDARAHAN INTRACRANIUM PASCA TRAUMA
GMO
Delirium termasuk ke dalam GMO ( Gangguan Mental Organik ).
Karakteristik utama GMO :
 Gangguan fungsi kognitif  daya ingat , daya pikir, daya belajar
 Gangguan sensorium
 Sindrom psikotik atau gangguan afektif

DELIRIUM DEMENSIA
 Ciri khas : penurunan  Ciri khas : penurunan kesadaran (-), gangguang
kesadaran (+) gangguan fungsi luhur dominan (daya ingat, daya tangkap,
siklus tidur bangun, berhitung, kemampuan belajar, berbahasa)
gangguan kognitif  Onset : progresif kronik
(disorientasi waktu, Terdiri dari :
hendaya daya ingat segera a. Demensia tipe Alzheimer  bukti klinis (-), terjadi
dan jangka pendek), usia tua
gangguan emosional. b. Demensia tipe vascular  bukti klinis (+) akibat
 Onset : cepat penyakit vascular (stroke)
Terapi : tergantung Terapi : Acetylcholinesterase Inhibitor (donepezil,
penyebab + rivasitgmin)
steroid(Dexamethason)
HATUR TENGKYU