Sie sind auf Seite 1von 101

Tata Laksana Pasien

dengan Kasus
Multitrauma
Definition
TRAUMA/Injury:
Physical damage due to transfer of energy
( kinetic, thermal, metabolic, chemical, electrical, or radiation )
What happens to the
patients?

Multiple trauma
Ingat : M.I.S.T.

M : Mech. of Injury
I : Injury Sustained
S : Signs (Clinical)
T : Therapy
Multiple trauma
25 % trauma abdomen
Gejala dan tanda : kadang lambat -------> diagnosis sulit
TRAUMA
-PHYSIK :
- MEKANIK
- THERMIS
- ELEKTRIK
-CHEMIS
-BIOLOGIS :
- BAKTERI
- VIRUS
- PARASIT
- FUNGSI
-PSIKIS
Hans von Gersdorf, abad 15 Asmussen et al., 1995
TRAUMA
1. The 5 th leading causes of death
2. The 1st leading cause of death of
young adults
3. Approximately 8,000 patients died
from trauma annually
Kematian OK. Trauma :
I. Dalam beberapa menit I
- Kerusakan otak berat
- Kerusakan jantung & vasa-vasa berat
- Sulit diselamatkan

II. Dalam beberapa jam I :


- Perdarahan Hypovolemia
- Perdarahan ke rongga tengkorak / pericord
- Kemungkinan dapat diselamatkan
III. Dalam beberapa minggu :
- Sepsis
- MOF
GOAL
1. Recognize different surgical
emergencies
2. Learn a correct notion
3. Decrease delayed diagnosis
4. Prevent secondary injury
STEP
(Tahap penanganan)
PRIMARY
A. Airway and C-spine control
SURVEY
B. Breathing and ventilation
C. Circulation and hemorrhage control
D. Disability
E. Exposure
LIFE THREATENING ????????????
PLAN ???????????????????????????

Re-asassment
SECONDARY SURVEY
•History of Illnes
•Phisical Examination
•Diagnosis
•Treatment
PRIMARY SURVEY AND SECONDARY SURVEY
FILOSOFI :

meringankan penderitaan....,
............. memperpanjang usia
Prioritas evaluasi

I . Airway, Breathing, Circulation (ABC).

II. Kelainan-kelainan yang potensial mengancam jiwa.

III. Mencari kelainan-kelainan yang sering terjadi.


Penanganan
Evaluasi awal / Primary Survey :
A airway and C-spine
B breathing
C circulation
D disability dan neurologis
E exposure
“ABC“
Clinical history ( Riwayat penyakit) :
- Waktu terjadinya trauma.
- Mekanisme trauma.

A (airway) :- tachypnea, stridor, suara nafas seperti orang


berkumur  ada gangguan airway.
- Pengelolaan, bila tak ada tanda2 fraktur
cervical lakukan tripple maneuver.
LIFE-THREATENING (A-B)

1. Airway obstruction
2. Tension pneumothorax
3. Open pneumothorax
4. Massive hemothorax
5. Pericardiac tamponade
6. Flail chest combined pulmonary
contusion
SECURE AIRWAY
 Assist airway
Oral airway, nasal airway, LMA
 Endotracheal intubation
Oral, nasal
 Surgical airway
Cricothyroidotomy
Tracheostomy
B (breathing) :
- gerakan dinding dada ? , otot- otot pernafasan ?
suara nafas ? , dan RR ?.
- Apabila RR > 30 x / menit  beri analgetik & O2
nasal  belum ada perbaikan(RR makin meningkat)
pasang ET & berikan O2 per ET dan segera periksa AGD,
bila PO2< 60 dan PCO2 >55 segera pasang ventilator.
C ( sirkulasi ) :
-ada tanda-tanda preshock/ shock, penyebabnya ?
perdarahan atau non perdarahan.
- Beri cairan kristaloid 500 cc secepatnya dan evaluasi, bila
hemodinamik membaik teruskan resusitasi cairan, bila tak
membaik cari causa lain.
- Untuk trauma thoraks paling sering adalah :
tensionpneumothoraks atau tamponade cordis.
DEFINISI SYOK
Ketidaknormalan sistem peredaran
darah /sirkulasi (C) yang
mengakibatkan perfusi organ dan
oksigenasi jaringan tidak adekuat
JENIS SYOK PADA TRAUMA
Syok hipovolemik/hemoragik ---penyebab terbanyak syok pd trauma
Syok kardiogenik
Syok Obstruktif (Tension pnemothorak)
Syok septik
Syok neurogenik
RESPON TERHADAP KEHILANGAN
DARAH
1. VASOKONSTRIKSI KULIT DAN OTOT
2. DETAK JANTUNG MENINGKAT
(TAKIKARDIA)
3. KESADARAN TURUN
4. TEKANAN NADI MENINGKAT
5. TEKANAN DARAH TURUN
6. URIN OUTPUT BERKURANG
PERDARAHAN EKSTERNAL
PERDARAHAN INTERNAL
PENYEBAB SYOK
KLASIFIKASI SYOK
Kriteria syok Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV
Darah hilang/cc < 750 750-1500 1500-2000 > 2000
Darah hilang/% BV < 15 % 15-30% 30-40% > 40%
NADI < 100 >100 >120 >140

TEKANAN NADI NORMAL/ TURUN TURUN TURUN

TEKANAN DARAH NORMAL NORMAL TURUN TURUN

RESPIRASI 14-20 20-30 30-40 >35

PRODUKSI URINE >30 CC/JAM 20-30 5-15 TIDAK ADA

KESADARAN AGAK GELISAH BINGUNG LETARGIK


GELISAH
CAIRAN PENGGANTI KRISTALOID KRISTALOID KRISTALOID + KRISTALOID +
DARAH DARAH
MENGHENTIKAN
PERDARAHAN
Meninggikan ekstremitas
Melakukan balut tekan
pada perlukaan
Torniket?
TORNIKET
PERDARAHAN MENGANCAM JIWA
BAGIAN DISTAL PERLUKAAN TIDAK
MUNGKIN DISELAMATKAN LAGI
RESUSITASI CAIRAN
PERHATIAN!!

JANGAN MENUNDA RESUSITASI


CAIRAN BILA TANDA-TANDA/GEJALA
SYOK TAMPAK DIDUGA
PRINSIP
PADA TAHAP AWAL MENGGUNAKAN CAIRAN KRISTALOID (CARIAN
RINGER LAKTAT YANG TERBAIK)
MENGGANTI PERKIRAAN JUMLAH DARAH YANG HILANG DENGAN
CAIRAN KRISTALOID 1:3 (1 ML DARAH DENGAN 3 ML CAIRAN
KRISTALOID)
MENGGUNAKAN KATETER BESAR 2 JALUR
AKSES PEMBULUH DARAH PERIFER JIKA GAGAL (VENA
FEMORALIS/JUGULARIS/VENA SEKSI)
CAIRAN INFUS DIHANGATKAN UNTUK MENGHINDARI HIPOTERMIA (
SUHU 39 DERAJAT CELCIUS)
UNTUK PENGGANTIAN DARAH HARUS SUDAH MELALUI CROSS
MATHCING. (PRC/WHOLE BLOOD)
Penanganan sekunder
• Pantau pengeluaran urin
• Melakukan pemeriksaan secara teliti
dan berulang (eksposure) untuk
menemukan kelainan yang lain
• Memasang CVP jika diperlukan
• Menentukan tindakan lanjut setelah
dilakukan resusitasi awal (evaluasi
secara kontinyu)
RESPON TERHADAP CAIRAN
(Ringer Laktat 2000 cc / 20-40 cc per kgBB, 10-15 ’)
RESPON CEPAT RESPON UN RESPON
SEDANG
TANDA VITAL KEMBALI PERBAIKAN TETAP
NORMAL SEMENTARA MEMBURUK
DARAH HILANG 10-20% 20-40% > 40%

CAIRAN MAINTENANCE PERLU SANGAT


TAMBAHAN PERLU
TRANFUSI JARANG SERING SEGERA

OPERATIF MENGKIN MUNGKIN SANGAT


SEKALI MUNGKIN
when i hear ...i am forget

when i see ...... I am remember

when i do ..... i am understand


JENIS TRAUMA
Dalam hal kecelakaan massal, urutan prioritas korban yang harus dipindah
ketempat pertolongan lanjutan :

Korban dengan luka di dada dan leher disertai sesak nafas


Korban dengan luka di dada atau perut yang disertai perdarahan dalam rongga
rongga tersebut
Korban dengan luka di perut
Korban cedera di kepala
Korban cedera di tulang belakang
Korban dengan lukabakar >20%
Korban dengan patah tulang pinggul, paha dan betis
CIDERA KEPALA
Berdasarkan tingkat kesadaran (GCS) :
Cidera Kepala Ringan
 Cidera Kepala Sedang
 Cidera Kepala Berat
Trauma Kranio Fasial

Deformity

Ocular
Disparity
Diagnosis

Maloclusion

False
Motion
Fraktur Maksila
Klasifikasi

1. Lefort I 4. Sagital

2. Lefort II

3. Lefort III
TRAUMA LEHER :

Secara epidemiologi ada 2 (dua) jenis

cedera/ trauma di daerah leher yaitu :

- Trauma tajam ( penetrating wound )

- Trauma tumpul ( blunt injury )


PRINSIP UMUM
PENATALAKSANAAN/PENANGANAN
TRAUMA LEHER

1. Primary survey, resusitasi, secondary


survey
2. Damage control (di tahap circulation)
3. Definitive surgery

Berdasarkan status dan cedera khusus


TRAUMA ABDOMEN
MEKANISME CEDERA
1. TRAUMA PENETRASI (tembus)

Luka tusuk : hati (40%)


usus kecil (30%)
diafragma (20%)
usus besar (15%)
Trauma penetrasi
MEKANISME CEDERA
2. TRAUMA NON PENETRASI (blunt)
kompresi
hancur (crash)
sabuk pengaman (seat belt)
akselerasi / deselerasi

limpa (40%), hati (35%), hematom (15%)


Waktu Timbul Peritonitis Bervariasi :

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Gaster/ Kolon Usus halus
Duodenum/
V.F./
V.U.
Acute Abdominal Condition :
“ It’s better to look and see rather than wait and
see “

“ When in doubt, open it ! “


Keadaan Khusus
Viscera keluar : tutup dengan kasa steril lebar lembab (beri NaCl)
Benda yang menancap jangan dicabut
Trauma Abdomen
Abbreviated laparotomy
Avoiding abdominal hypertension
Early enteral nutrition
Short term antibiotic therapy
Hollow viscus suturing
Packing to control hemorrhage
DAMAGE CONTROL SURGERY
Keadaan lain
1. Fraktur pelvis :
◦ jejas di daerah pelvis
◦ Nyeri bila tungkai digerakkan
◦ nyeri bila tulang pelvis ditekan

Kadang-kadang syok ------> fiksasi eksterna, PASG (Pneumatic Anti Shock


Garment)
2. Ruptur Uretra :
- Perdarahan lewat oue
- Hematoma scrotum dan atau
perineum

“ Tidak boleh dipasang kateter ”


3.Muskuloskeletal
85 % trauma tumpul
Life saving and Limb saving
Prioritas resusitasi sama dengan trauma lain
Reevaluasi harus tetap dilakukan terus-menerus
Primary Survey & Resusitasi Trauma
Muskuloskeletal

Kontrol perdarahan  tekanan langsung


Pemasangan bidai  perdarahan
Resusitasi cairan yang aggresif
Trauma Mengancam Ekstremitas
Dislokasi
Dislokasi Bahu
Dislokasi Anterior
Dislokasi Posterior
Dislokasi Inferior
Dislokasi Hip
Dislokasi Posterior
Disloksi Anterior
Dislokasi Sentral
Fraktur dan dislokasi

Dislokasi panggul

CLINICALLY:
SHORTENED/ FLEXION
INTERNAL ROTATION
ADDUCTION
4. Luka Bakar
Kedalaman luka bakar :
Grade I
Grade II
Grade III

Penanganan
Resusitasi cairan
Medikamentosa
Kondisi lokal luka
KASUS TRAUMA
Kasus 1 : trauma tumpul

Laki-laki 20 th, KLL


Perut sakit, nyeri tekan
Demam
Tidak ada jejas yg jelas pada
perut
Tidak syok
Masuk RS 1 jam stlh kejadian.
( Ro : udara bebas )
Durante op : perforasi ileum multiple
Kasus 2 : trauma tumpul
Laki-laki 60 th KLL 4 hari smrs,
dengan # trochanter dan hernia
diapragmatika kiri.
Sebelumnya dirawat di RS
Banyumas dan dirujuk ke RSS.
Gaster dg Gastric tube

Thorak - PA Left Lateral Decubitus


Isi hernia : seluruh gaster + lien
Hari I pasca operasi

Cairan dari WSD


Foto pasca operasi dg WSD
ILUSTRASI KASUS TRAUMA
Mekanisme cedera : langsung
Mekanisme cedera : Akselerasi

Whiplash
Mekanisme cedera : Deselerasi

Arah
Gaya

terfiksir
Mekanisme cedera : Kompresi

Efek kantong kertas


 FRONTAL
Fase 1
Fase 2
FASE 3
Fase 3 AGD

20
FASE 4
Belakang (Rear-end)
Lateral
Cedera pada Tabrakan Lateral
Terbalik
Terbalik
Tanpa sabuk :

60 km / jam
Tanpa sabuk :

1 ton

60 KM / Jam
Sabuk pengaman :

Salah

Benar
Senderan kepala

Harus
tepat
FRONTAL
Lateral
Pejalan kaki :

1
2
3
Jatuh dari ketinggian :

Vertebra

Tumit
Jatuh dari ketinggian :

Leher

Kepala
LEDAKAN

Cedera ledak primer


(gelombang kejut)
Peluru : efek kavitasi
Perjalanan peluru
Peluru : perubahan bentuk
Ringkasan :
Multipel Trauma terutama Trauma abdomen : perlu kewaspadaan
tinggi dan pengalaman cukup utk menegakkan diagnosis.
Mortalitas tinggi : keterlambatan diagnosis / penanganan, tehnik
operasi relatif sulit.
Peran dokter umum : diagnosis – stabilisasi.