Sie sind auf Seite 1von 25

PENGUJIAN UNDANG UNDANG

PERADILAN KONSTITUSI
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA
The application of the constitutional rules concerning legislation can be
effectively guaranted only if an organ other than the legislative body is
entrusted with the task of testing whether a law is constitutional, and of
annulling it if – according to the opinion of this organ – it is “unconstitutional”.
There may be a special organ established for this purpose, for instance, a
special court, a so-called “constitutional court”...

Hans Kelsen, General Theory of Law and State


Vicki C. Jackson and Mark Tushnet note this phenomenon as
follows:
“When a European constitutional judge declares an act
unconstitutional, his declaration has the effect of annulling the
act, of making it disappear from the legal order. It is no longer in
force; it has no further legal effect for anybody, and sometimes
the ruling of unconstitutionality operates retroactively. Kelsen
characterized the constitutional court as a “negative legislator”,
as distinguished from the “positive legislation,” the parliament.”
As Herman Schwartz indicates:
“A constitutional court is a child of constitutional democracy. It
cannot fulfill its function except in such a polity, for independence
is indispensable to a well-functioning judicial body and
authoritarian governments do not allow such independent
institutions.”
Herman Schwartz, The Struggle for Constitutional Justice
in Post-Communist Europe, Chicago: The University of Chicago Press, 2000
 Ran Hirschl menyebutkan dalam Towards Juristocracy bahwa:
“one of the six broad scenarios of constitutionalization and the establishment of judicial review at
the national level in post World War II era, in the “single transition” scenario, the
constitutionalization of rights and the establishment of judicial review are noted as the by-
products of a transition from a quasi-democratic or authoritarian regime to democracy.
Therefore, in this context, Indonesia is also noted as the only Asian country which having the
similar scenario with South Africa in 1995, several countries in Southern Europe (Greece in
1975, Portugal in 1976, Spain in 1978) and Latin America (Nicaragua in 1987, Brazil in 1988,
Columbia in 1991, Peru in 1993, Bolivia in 1994).

Ran Hirschl, Towards Juristocracy: The Origins and Consequences


of the New Constitutionalism, Cambridge: Harvard University Press, 2004, p. 7-8.
PERBANDINGAN
o Model Amerika, fungsi MK dilaksanakan MA
o Model Austria
MK berdampingan dengan MA
o Model Perancis
Adanya Dewan (council) konstitusi selain MA, yang melakukan
judicial preview
o Model Venezuela
MK merupakan salah satu kamar dari MA
o Model Inggris, Belanda, dan negara Komunis yang tidak mengenal
MK karena dianut supremasi parlemen
karena berlaku asas UU tidak dapat diganggu-gugat
Glossaries
o Constitutional Review;
o Toetsingsrecht
• Uji materiel (substantive review/materiel toetsing), or
• Uji formiil (procedural review/formele toetsing)
o Legislative Review;
o Judicial Review;
o Executive Review;
o Administrative Review
o Writ of mandamus
o Amicus Curiae (friends of the court)
o Constitutional Complaint
o Constitutional Question
o Ultra petita
o Judicial Activism vs Judicial Restraint
o Conditionally Constitutional
Origin of Judicial Review
 Perkara Marbury v. Madison 1803
 Jhon Adams = 2nd US President (1797-1801)
VP under Washington
 Thomas Jefferson = 3rd US President (1801-1809)
VP under Adams and
the author of Dec of Independence
 John Marshall = Chief Justice of SC; sepupu Jefferson
Secretary of State (1800-1801)
 William Marbury = Penggugat (justice of peace in DC)
Jurkam Adams dlm Pilpres
 James Madison = Tergugat yang juga konco Jefferson
Secretary of State under Jefferson
4th US President (1809-1817)
Origin of Judicial Review
 Perkara Marbury v. Madison 1803
 Marbury selaku pemohon (penggugat Madison) meminta agar SC mengeluarkan writ of
mandamus (surat perintah lembaga peradilan agar Eksekutif (Madison) melakukan sesuatu.
 Pasalnya, surat pengangkatan Marbury sebagai hakim perdamaian yang sudah ditandatangani
oleh Presiden John Adams, tak kunjung dilaksanakan oleh pemerintah (Jefferson cq Madison).
Besar kemungkinan Jefferson mengabaikan Marbury lantaran perbedaan aliran politik. Marbury
termasuk salah seorang jurkam Adams dlm pilpres melawan Jefferson.
 Meskipun dalam putusannya Marshall menyatakan bahwa tindakan Madison tsb illegal, namun
alih2nya menerbitkan writ of mandamus, John Marshall justru membatalkan kewenangan
dirinya utk mengeluarkan writ of mandamus dengan menyatakan bahwa klausul yang terdapat
dalam Juciary Act tsb, bertentangan dengan US Constitution.
 Marshall memangkas kewenangannya menerbitkan writ of mandamus, namun justru
menambah kewenangan yang lebih dahsyat lagi, yakni membatalkan norma UU.
 Karena itu, larangan ultra petita yang digaungkan sejumlah kalangan, justru telah bertentangan
dengan origin of judicial review
MAHKAMAH KONSTITUSI
 Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan
terakhir yang putusannya bersifat final untuk:
○ menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar;
○ memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh Undang-Undang Dasar;
○ memutus pembubaran partai politik; dan
○ memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

 Selain kewenangan tersebut di atas, Mahkamah Konstitusi wajib memberikan


putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga
telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara,
korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela, dan/atau
tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.
24 KEKUASAAN KEHAKIMAN
Mahkamah Konstitusi

Hakim konstitusi harus


memiliki integritas dan

MK
mempunyai sembilan orang
kepribadian yang tidak anggota hakim konstitusi yang
tercela, adil, negarawan ditetapkan oleh Presiden,
yang menguasai konstitusi yang diajukan masing-masing
dan ketatanegaraan, serta Pasal 24C tiga orang oleh MA, tiga orang
tidak merangkap sebagai oleh DPR dan tiga orang oleh
pejabat negara Presiden
[Pasal 24C (5)] [Pasal 24C (3)]

Wewenang

1. berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya


bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar,
memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan
oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus
perselisihan tentang hasil pemilihan umum [Pasal 24C (1)];
2. wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai
dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-
Undang Dasar [Pasal 24C (2)];
Satya Arinanto - Implikasi Hukum Putusan MK
10/10/19 RI Nomor 026/PUU-III/2005 11
WEWENANG DAN FUNGSI MK

Wewenang MK
Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 :
“Mahkamah Konstitusi berwenang
mengadili pada tingkat pertama dan
terakhir yang putusannya bersifat final
untuk menguji UU terhadap UUD,
memutus sengketa kewenangan
lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh UUD, memutus
pembubaran parpol, dan memutus
perselisihan tentang hasil pemilu.”

Pasal 24C ayat (2) UUD 1945 :


“Mahkamah Konstitusi wajib
memberikan putusan atas pendapat DPR
mengenai dugaan pelanggaran oleh
Presiden dan/atau Wapres menurut
UUD.”
Pengujian Peraturan
Perundang-undangan

 Pengujian Undang-undang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi;


 Pengujian Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-undang dilakukan
oleh Mahkamah Agung;
 Khusus untuk Peraturan Daerah, pengujiaannya dapat pula dilakukan oleh
Menteri Dalam Negeri selaku bagian dari pemerintah pusat yang berwenang
membina pemerintahan daerah.

Dalam PUU, yang diuji bukan orang per orang, namun norma yang sifatnya abstrak
dan mengikat masyarakat. Tidak ada istilah menang-kalah, namun yang terjadi
adalah mekanisme pengujian norma seandainya ada dugaan kerugian
konstitusional yang mungkin menimpa salah seorang warga negara.
Judicial Review
The Encyclopedia Americana: Judicial review is the
power of the courts of the country to determine if the
acts of the legislature and executive are
constitutional. Acts that the courts declare to be
contrary to the constitution are considered null and
void and therefore unenforceable.
Judicial Review
o Black’s Law: judicial review diartikan sebagai: power of courts
to review decisions of another department or level of
government.
o Erick Barendt: Judicial review is a feature of a most modern
liberal constitutions. It refers to the power of the courts to
control the compatibility of legislation and executive acts of
the term of the constitutions.

o Di Eropa Kontinental berkembang doktrin:


o De wet is onschembaar: UU tidak dapat diganggu-gugat
Judicial Review
 Judicial Review dapat dilakukan dengan 2 model
peninjauan:
 Uji materiel (substantive review/materiel toetsing), or
 Uji formiil (procedural review/formele toetsing)

 Uji materiil dilakukan terhadap substansi atau materi dari suatu UU,
sementara pengujian formiil dilakukan atas prosedur pembentukan UU dan
hal lain yang tidak termasuk materi UU. Misalnya pengujian terhadap
proses pembentukan UU yang secara prosedural telah diatur dalam UUD,
namun ternyata pelaksanaannya terjadi penyimpangan.

Pengaturan lebih lanjut tentang Pengujian UU diatur dalam Peraturan


Mahkamah Konstitusi No. 06/PMK/2005
Hierarki Peraturan Perundang-undangan

Tata Urut Peraturan Perundang-undangan


menurut Tap MPR No. III tahun 2000:
UUD 1945;
Tap MPR;
UU;
Perpu;
PP;
Keppres;
Perda.
Hierarki Peraturan Perundang-undangan

Tata Urut Peraturan Perundang-undangan menurut


Ketetuan Pasal 7 UU No. 12 tahun 2011:
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
LEGAL STANDING
Legal standing adalah keadaan di mana seseorang atau suatu pihak ditentukan memenuhi syarat dan
oleh karena itu mempunyai hak untuk mengajukan permohonan penyelesaian perselisihan atau
sengketa atau perkara di depan Mahkamah Konstitusi. (Harjono, 2005)

Pasal 51 UU MK
(1) Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan
oleh berlakunya undang-undang, yaitu:
a. perorangan warga negara Indonesia;
b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang;
c. badan hukum publik atau privat; atau
d. lembaga negara.
(2) Pemohon wajib menguraikan dengan jelas dalam permohonannya tentang hak dan/atau kewenangan
konstitusionalnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Dalam permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pemohon wajib menguraikan dengan
jelas bahwa:
a. pembentukan undang-undang tidak memenuhi ketentuan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945; dan/atau
b. materi muatan dalam ayat, pasal, dan/atau bagian undang-undang dianggap bertentangan dengan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
LEGAL STANDING
Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 006/PUUIII/2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-
V/2007, Mahkamah telah menentukan 5 (lima) syarat kerugian konstitusional sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) UU 24/2003 tersebut, yakni:
a. adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional yang diberikan oleh UUD 1945;
b. hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut dianggap telah dirugikan oleh berlakunya
undang-undang yang dimohonkan pengujian;
c. kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut bersifat spesifik (khusus) dan aktual
atau setidak-tidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan
terjadi;
d. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian hak dan/atau kewenangan
konstitusional dengan undang-undang yang dimohonkan pengujian;
e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian hak dan/atau
kewenangan konstitusional yang didalilkan tidak lagi terjadi;

Alien’s Rights?
Tax payers rights?
Proses Perumusan Kebijakan menjadi Produk
Hukum
 Kebijakan Nasional memiliki hierarki tertentu dalam tatanan hukum, mulai dari konstitusi sebagai
staatsgrundgezet hingga peraturan daerah;

 Ketika suatu kebijakan dirumuskan dalam suatu peraturan perundang-undangan, maka stratifikasi
kebijakan tersebut akan terbingkai dalam suatu hierarki peraturan perundang-undangan. Karenanya,
setiap kebijakan yang dibuat pemerintah tidak boleh bertentangan dengan kebijakan yang lebih tinggi;

 Setiap kebijakan yang diambil oleh the rule-makers, berpotensi untuk di-review baik oleh institusi di
atasnya, maupun oleh dua institusi eksternal: legislatif maupun peradilan;

 Proses perumusan kebijakan ke dalam ketentuan perundang-undangan memiliki kaedah-kaedah


tertentu yang tidak boleh diabaikan oleh the rule-makers;
CC Limitation
 Pasal 45A UU MK
Putusan Mahkamah Konstitusi tidak boleh memuat amar putusan yang tidak diminta oleh pemohon atau
melebihi Permohonan pemohon, kecuali terhadap hal tertentu yang terkait dengan pokok Permohonan.

 Pasal 50 UU MK
Undang-undang yang dapat dimohonkan untuk diuji adalah undang-undang yang diundangkan
setelah perubahan UUD NRI Tahun 1945.
Ketentuan Psal ini telah dihapus dan diganti dengan:
 Pasal 50A
Mahkamah Konstitusi dalam menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 tidak menggunakan undang-undang lain sebagai dasar pertimbangan
hukum.
 Pembatasan Kewenangan MK?
Kewenangan Organ UUD tidak dapat dibatasi oleh UU
 Pengujian Peraturan PerUU di bawah UU?
Kaedah Dasar Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan

Fenomena Pengujian Undang-undang yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi sejak


berdirinya institusi tersebut, menunjukkan pentingnya memperhatikan kaedah dasar
berikut:

 Memperhatikan berbagai perubahan ketentuan dalam konstitusi untuk perumusan undang-


undang sehingga memperkecil kemungkinan untuk di-judicial review oleh MK;
 Memperhatikan berbagai perubahan ketentuan dalam undang-undang peraturan lainnya yang
lebih tinggi untuk perumusan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang
sehingga memperkecil kemungkinan untuk di-judicial review oleh MA;
 Harus dihindari perumusan ketentuan yang berpotensi merugikan hak konstitusional warga
negara;
 Memperhatikan tata cara pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana diatur
dalam UU No. 10 tahun 2004 dan Peraturan Presiden No. 68 tahun 2005;
Implikasi Putusan MK
Pasal 58 UU MK
Undang-undang yang diuji oleh Mahkamah Konstitusi
tetap berlaku, sebelum ada putusan yang menyatakan
bahwa undang-undang tersebut bertentangan dengan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.

Akibat pembatalan norma oleh MK tidak berlaku surut.


Di Korea dan Itali, pembatalan norma berlaku surut untuk
norma UU hukum pidana. Sebagai akibat dari batalnya
norma pidana tersebut, maka terpidana harus
dibebaskan dan direhabilitasi nama baiknya.
END OF SESSION