Sie sind auf Seite 1von 49

Kuliah 21-22 Oktober 2014

Hidung & Sinus Paranasal

dr. Stephani Linggawan, SpTHT-KL

FK. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya


ANATOMI & FISIOLOGI
HIDUNG
2
NASUS EKSTERNUS

Bentuk piramid KERANGKA TULANG


1. Pangkal (radix)
2. Batang (dorsum)
1. Os nasal D et S
3. Puncak (apex)
4. Ala nasi 2. Proc Frontalis Os Maxilla D et S
5. Kolumela 3. Proc Nasalis Os Frontal D et S
6. Lubang (nares anterior)

KERANGKA TULANG RAWAN


APERTURA PIRIFORMIS
1. Kartilago Lateralis Superior D et S
Lubang pd tengkorak ~ buah per
2. Kartilago Lateralis Inferior D et S
1. Os nasal D et S
2. Proc Frontalis Os Maxilla D et
3. ( alar mayor )
S 4. Kartilago Alar Minor D et S
3. Proc Alveolaris Os Maxilla 5. Tepi anterior Kartilago Septum
...nasus eksternus...

MUSKULI

Dilator VASKULARISASI
M. Procerus
M. Quadratus Labii A. Dorsalis Nasi (cab A. carotis interna)
Superior caput angulare A. Angularis (cab A. carotis externa)
Konstriktor V. Angularis  Sinus Cavernosus
M. Nasalis
M. Depressor Nasi

LIMFONODULI INERVASI

Ln. Submaxillaris Kulit : cab. N. Trigeminus


Ln. Parotis Otot : cab. N. Facialis
VESTIBULUM NASI
• Dari nares anterior ke blkg atas
( limen nasi ) ke cavum nasi
• Epitel kulit dg vibrise & kelenjar
sebasea

CAVUM NASI
• Dibatasi oleh vestibulum nasi (anterior) & nares
posterior /koana ( posterior)
• Terbagi 2 bagian kanan & kiri oleh septum nasi di
tengah
• Mempunyai: dasar (lantai), atap, dinding lateral &
medial
...cavum nasi...

DASAR

1. Proc. Palatinus Os Maxilla MEDIAL


( ¾ depan )
2. Proc. Horizontalis Os Bagian Tulang
Palatinus ( ¼ blkg ) 1. Lamina Perpendikularis Os Ethmoid
2. Vomer
3. Krista Nasalis Os Maxilla
4. Krista Nasalis Os Palatina
ATAP
Bagian Tulang Rawan
1. Lamina Kuadrangularis
1. Proc. Nasalis Os Frontalis
( kartilago septum )
( depan )
2. Kolumela
2. Lamina Cribosa Os
Ethmoidalis ( tengah )
3. Os Sphenoidalis ( blkg )
...cavum nasi...
KONKA NASI MEDIUS

LATERAL Dibawahnya ada Meatus Nasi Medius


muara Sinus Frontalis, Etmoid Anterior
Berbatasan dg dinding medial & Maxillaris
Sinus Maxillaris Os Maxilla
Kompleks Ostiomeatal ( KOM )
Terdapat 4 konka a. Proc. Unsinatus
b. Infundibulum Ethmoid
c. Hiatus Semilunaris
d. Bula Ethmoid
KONKA NASI INFERIOR e. Agger Nasi
f. Recessus Frontal
Terbesar & terpanjang

Kaya pembuluh darah  Plx. KONKA NASI SUPERIOR


Cavernosus Concharum Dibawahnya ada Meatus Nasi Superior
muara Sinus Ethmoid Posterior &
Dibawahnya ada Meatus Nasi Sphenoid
Inferior muara Duct.
Nasolacrimalis KONKA NASI SUPREMA
( Katub Hasner ) Terkecil & biasanya rudimenter
Kompleks Ostiomeatal (KOM)

a. Proc. Unsinatus
b. Infundibulum Ethmoid
c. Hiatus Semilunaris
d. Bula Ethmoid
e. Agger Nasi
f. Recessus Frontal
MUKOSA OLFAKTORIUS

MUKOSA • Septum nasi 1/3 atas


• Atap cavum nasi
• Konka superior
• Epitel Pseudostratified Columnar
MUKOSA RESPIRATORIUS Non Ciliated
• Tdd 3 sel
• Septum Nasi 2/3 bawah
1.Supporting Cell
• Dasar cavum nasi
2.Basal Cell
• Dinding lateral cavum nasi
3.Olfactory Cell
dibawah Konka Superior
• Nasofaring ½ atas
• Sinus Paranasalis
• Epitel Pseudostratified
Columnar Ciliated
• Jar. Ikat sub epitel longgar kaya
kavernosa erektil & sel goblet
• Diatur saraf Otonom
VASKULARISASI
Pleksus Kiesselbach
(Little’s area)
 anastomose a. sfenopalatina. A.
etmoid anterior, a. labialis superior &
a. palatina mayor yg terletak
superfisial di bagian depan septum

Pleksus Woodruff
 anastomose a. sfenopalatina &
a. faringeal posterior yg terletak di
bawah posterior ujung akhir konka
inferior
INERVASI

1. Saraf Pembau : N. Olfactorius


2. Saraf Sensoris : cab. N. Trigeminus
• N. Opthalmicus  N. Ethmoidalis Anterior
• N. Maxillaris melalui Ganglion Sphenopalatina
3. Saraf Otonom
• Simpatis : Ganglion Cervikalis Superior
 Ganglion Sphenopalatina
• Parasimpatis : N. Facialis
 Ganglion Sphenopalatina
 N. Vidianus
FUNGSI HIDUNG

I. FUNGSI PERNAFASAN
Menyiapkan udara ~ keadaan fisiologis paru
1. Mengatur jumlah udara yang masuk
2. Menyiapkan udara pernafasan
a. Menyaring
• Vibrissae  partikel kasar
• Mucous Blanket ( palut lendir)  partikel halus
b. Melembabkan
- Sel Goblet  palut lendir
c. Memanaskan
- Conchae nasi ( terutama konka inferior), kaya pembuluh darah

3. Desinfeksi

a. Mucous Blanket
b. Enzym Lyzozym
c. Suasana asam (Ph 6,5)
d. S i l i a
e. Sel fagosit, limfosit, histiosit (sub mucosa)
f. Kelenjar getah bening regional
mucocillary blanked
II. FUNGSI PENGHIDU
- mukosa olfaktorius di atap cavum nasi, concha
superior & 1/3 bagian atas septum
- bekerja sama dengan fungsi pengecapan

III. FUNGSI RESONANSI SUARA & PROSES BICARA


hidung tersumbat  suara sengau/bindeng
(Rhinolallia occlusa)

IV. FUNGSI DRAINASE & VENTILASI


sinus paranasales & kelenjar lacrimalis

V. REFLEK NASAL
ANATOMI & FISIOLOGI
SINUS PARANASAL 21
SINUS PARANASAL

Rongga dalam tulang tengkorak disekitar hidung,


akibat pneumatisasi tulang tengkorak

ANTERIOR GROUP POSTERIOR GROUP

 Sinus maksilaris, sinus  Sinus etmoidalis


etmoidalis anterior & sinus posterior & sinus
frontalis sfenoidalis

 Bermuara di meatus  Bermuara di meatus


nasi medius nasi superior
SINUS ETHMOIDALIS

EMBRIOLOGI UKURAN DEWASA

E. anterior : 22x22x10 mm
Tumbuh saat usia kehamilan E. posterior : 20x20x10 mm
3-4 bln, berupa evaginasi
dinding lateral nasi Jumlah : 10 - 15 selulae / sisi
ke regio meatus medius Volume : 14 - 15 cc
 Etmoid anterior
ke regio meatus superior
 Etmoid posterior Berhubungan dengan
Fossa Cranii Anterior
Orbita
Saccus Lacrimalis
Nervus Opticus
Sinus Ethmoidalis berhubungan dengan
Fossa Cranii Anterior
Orbita
Saccus Lacrimalis
Nervus Opticus
...sinus ethmoidalis...

ARTERI VENA SARAF

• Cabang nasal • Vena • Cabang


A. Maxillaris & posterolateral
sphenoplatina Ethmoidalis  nasal dari N.
• Anterior & sinus Maxillaris (V2)
posterior A. cavernosus. • N. Ethmoidalis
ethmoidalis cabang N.
• cabang A. Opthalmicus (
ophthalmica V1 )
dari A. Carotis
Interna.
SINUS MAKSILARIS
ANTRUM OF HIGHMORE

Embriologi
berkembang pertama kali saat usia kehamilan 65 hari
dimulai sbg tunas sepanjang permukaan inferolateral bagian
ethmoid dari kapsul nasalis

Ukuran
Saat lahir : 7 x 4 x 4 mm
Dewasa : 34 x 33 x 23 mm
Volume (Dewasa) : 14,75 cc
...sinus maksilaris...

Sinus terbesar
Berbentuk piramida Dasar : dinding lateral cavum nasi
Ostium terletak di atas antara
dinding medial / dasar piramid
dengan atap ke hiatus semilunaris

Lantai : processus alveolaris


maxilla & palatum durum
Akar bbrp gigi menonjol /
Atap : dasar orbita yg tipis menembus lantai sinus ini (P2
M1dan M2)
Apex dpt meluas sampai
processus zygomaticus Lantai sinus maksila 5 – 10 mm
lebih rendah dp dasar cavum nasi
...sinus maksilaris...

ARTERI

• Cabang A. Maxillaris termasuk, infra orbital, cabang


lateral nasal dari Sphenopalatina, Palatina major dan
posterior dan antero superior A. Alveolaris

VENA

• vena Maxillaris  Plexus Venosus Pterygoidius

SARAF

• Sensasi mukosa berasal dari nasal latero posterior


dan alveolaris superior cabang N. Infraorbitalis dari
N. Maxillaris (V2)
SINUS FRONTALIS

Embriologi
Perluasan ke atas dari bagian anterior kapsul
nasalis dalam regio resesus frontalis pada 4 bulan
kehamilan.

Ukuran
Dewasa : 28 x 27 x 17 mm
Volume (Dewasa): 6 - 7 cc

Sering Asimetri (± 15% populasi )


& tidak berkembang (± 5% populasi)
30
...sinus frontalis...
ARTERI

Cabang Supratrochlearis &


Supraorbitalis A.Ophthalmica

Berhubungan dengan
VENA
 Fossa Cranii Anterior
Vena Ophthalmica superior  Sinus  Orbita
Cavernosus  Kulit & Periost Dahi
 Mulai berkembang pada
usia 8 tahun
SARAF

Sensasi mukosa dari cabang Supra


trochlearis & Supra Orbital N.
Frontalis dari N. Ophthalmica (V1)
SINUS SPHENOIDALIS

Embriologi
Berasal dari Evaginasi Mukosa Resesus
Sphenoidalis pada 3 bulan kehamilan.

Ukuran
Dewasa : 14 x 14 x 12 mm
Volume (Dewasa) : 7,5 cc

32
...sinus
sphenoidalis...

Terletak di belakang cavum nasi di dalam Corpus Os. Sphenoid

Batas
Batas Lateral Batas
Superior
Batas Inferior Sinus Posterior
Fosa cerebri
Atap cavernosus & Fosa cerebri
media &
nasofaring A. Carotis posterior
kelenjar
interna daerah Pons
hipofisis
...sinus sphenoidalis...

ARTERI

• Cabang dari A.Sphenopalatina & A.Ethmoidalis


Posterior

VENA

• Vena Maxillaris & Plexus Pterygoideus

SARAF

• Nervus Ethmoidalis Posterior cabang N.


Ophthalmica (V1) & cabang Sphenopalatina dari
N. Maxillaris (V2)
FUNGSI SINUS PARANASAL

Masih kontroversi
Mengatur kelembaban &
menghangatkan suhu udara inspirasi
Sinus paranasal terbentuk akibat (Air Conditioning)
pertumbuhan tulang wajah
Penahan suhu & peredam perubahan
penting untuk proses pernapasan tekanan udara intranasal
& mengunyah

Membantu produksi lendir (Mucous)


Meringankan tengkorak &
membantu keseimbangan kepala Meningkatkan luas permukaan
Olfactory Membrane
Resonansi Suara
Pertahanan imun
PEMERIKSAAN
HIDUNG & SINUS PARANASAL
36
PEMERIKSAAN
HIDUNG & SINUS PARANASAL

Anamnesa
- bersin
- sekret hidung (pilek / post nasal drip)
- hidung buntu
- nyeri di wajah & kepala
- mimisan (epistaxis)
- gangguan penghidu (anosmia / hiposmia)
- edem, deformitas
- ngorok (snoring)
- suara bindeng (rinolalia oklusa / aperta)
Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi

- Dorsum Nasi: - Deformitas (melebar, asimetri)


- Tanda radang

- Vestibulum Nasi: - Sekret


- Maserasi
- Tanda radang
2. Palpasi
- Dorsum Nasi: - Crepitasi
- Dislokasi
- Tumor
- Vestibulum nasi : tekan ala nasi
- Sinus frontal :
tekan lantai / dasar & dinding
depan Sinus Frontalis dengan ibu
jari
- Sinus maksila :
tekan Fossa Canina dg ibu jari
tenaga optimal simetris kanan &
kiri, hindari Foramen Supra/ Infra
Orbitalis
3. Rhinoscopia Anterior
Pemeriksaan Cavum Nasi dari depan (Nares) dengan
bantuan lampu kepala & spekulum hidung (Hartmann
Speculum)
Untuk memeriksa :
Dasar Cavum Nasi
Choncha Nasi Inferior & Media
Meatus Nasi Inferior & Media
Septum Nasi
Palatum Mole Phenomena
4. Rhinoscopia Posterior

Pemeriksaan Cavum Nasi dari belakang (Choane)


dengan bantuan lampu kepala, spatula lidah & kaca
cermin kecil bertangkai

Untuk memeriksa
 Nasopharynx
 Choanal
 Tepi dorsal septum nasi
 Cauda concha nasi superior & media
 Ostium tuba Eustachius
... rinoskopi
posterior ...
5. Transiluminasi / Diaphanoscopia

Pemeriksaan Sinus dengan bantuan lampu dalam kamar


gelap

Sinus Frontalis

Lampu diletakkan di dasar


sinus lihat kedua sisi kanan-
kiri secara bergantian,
pancaran sinar pada dahi
penderita
Sinus Maxillaris

1. lampu dimasukkan dalam rongga mulut


 lihat pancaran lampu didaerah infra orbital kanan / kiri

2. lampu diletakkan di Fossa Canina kanan / kiri bergantian


 lihat pancaran lampu pada dasar Sinus & Palatum.

Hasil bermakna jika terdapat perbedaan antara kanan & kiri.


6. Pemeriksaan Radiologik
- X. Foto Posisi Water’s
Terutama untuk Sinus Maxillaris
 Air fluid level, perselubungan,
Penebalan mukosa,
Tumor, Destruksi dinding tulang, dll

-X. Foto Posisi Caldwel (PA)


 Sinus Frontalis

- X. Foto Posisi Lateral


 Sinus Frontalis, Ethmoidalis & Sphenoidalis
7. Punksi Percobaan
Hanya dikerjakan untuk Sinus Maxillaris, untuk
diagnostik sekaligus terapi

8. Biopsi
Dapat dilakukan untuk Tumor pada Cavum Nasi
maupun Sinus Paranasales

9. Laboratorium
 Sitologi
 Immunologi
 Histopatologi
 Bakteriologi
 Rutin
10. Pemeriksaan Endoskopi

Nasoendoskopi
Sinoskopi
Ostium sinus maksila Muara ductus nasolacrimalis

Sekret pada meatus med. Septum deviasi

Polip pada meatus sup. Korpus alienum dasar CN


TERIMA KASIH
49