Sie sind auf Seite 1von 44

Upi Meikawati, SKM.

MKM

Disampaikan dalam Rapat Pembentukan Tim PPM Kota Tangerang Selatan


Tanggal 21 Maret 2019
1. Eliminasi Rubella
2. Eliminasi Filaria
3. Eliminasi
Schistosoma
4. Eliminasi Rabies
5. Eradikasi Frambusia
6. Eliminasi Campak 2050
7. Eliminasi penularan
HIV dari Ibu ke Anak 2030
INDONESIA
BEBAS TBC
2014/2015 1. Eliminasi
Malaria
2. Eliminasi
2020 1. Eliminasi TBC
Kusta 3. Getting to
2. Pengendalia three zero
HIV-AIDs
2017 n PTM
4. Eliminasi
3. Bebas
MR ODGJ/ Hepatitis C
CAMPAIG Pasung
N
BEBAN TBC

BEBAN TBC
RO

BEBAN TBC
HIV

PENGUATAN KOORDINASI BANTEN


TOSS TB
Diagnosed Percentage

TB Paru, terkonfirmasi 60.6


Bakteriologis
TB Paru, TIDAK 27.0
terkonfirmasi Klinis
TB Susunan Saraf Pusat 2.0
TB Organ Lain 8.6
TB Paru Miliaris 1.8
100% 1%
3% 2% 2% 2% 2% 0%
2% 1%
2% 1%
1%
3% 3% 3% 2%
90% 13%
GP/privat
18% 21%
80%
24% 24% 27% 29%
36%
e clinic
70%
lung clinic
60%
50%
40% 83%
78% 75% 71% 71% 71% 68%
30% 62%

20%
10%
0%
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
GOAL 3:
CROWDING, SILICA, HIV, NCD,
POOR INDOOR AIRTB MAL- VULNERABLE GROUPS HIV/ NCDs: RISK
incl. children, women, diabetes,
VENTILATION
TB Risk POLLUTION NUTRITIONTreatment
Screening TreatmentAIDS
migrants, prisoners, etc. Treatment
FACTORS
and Initiation Adherence smoking,
Assess Success
ment Testing alcohol…

CONDUCIVE ENVIRONMENT
IMPAIRED HOST DEFENCE/SUSCEPTIBILITY
FOR TRANSMISSION

LATENT ACTIVE SUFFERING


EXPOSURE AND DEATHS
INFECTION DISEASE
GOAL 1:
GOAL 3: SOCIAL
UHC TB
CAPAIAN KINERJA PENEMUAN KASUS TBC DI
KABUPATEN KOTA PROV BANTEN, 2018
2109, 9895,
153 % 85 %
2050,
3626, 96%
10216,
84%
141%

5710,
106%
2699, 1882,
78% 51%
45000 39092
40000 37,117
35000
30000
25000
20000
15000 10,110 11643
9,298
10000 7235 5,712
5373
3577 3443 4312
3,495
5000 2,109
1378 2131
2,050 1,822 2,521

0
BANTEN : 98 %
PERKIRAAN KASUS TB :
39.092
DITEMUKAN : 38.124
ANGKA KEBERHASILAN (SUCCES RATE) BANTEN
TAHUN 2017

120

100 95 92 97
92 87 87
84 84
80
64
60

40

20

0
No Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Kasus SITT Tahu Status HIV % TB-HIV Positif % ART % PPK %

1 Kota Cilegon 418,705 1276 964 76 26 2.70 13 50 15 58

2 Kota Serang 655,004 1619 548 34 10 1.82 4 40 5 50

3 Kota Tangerang 1,593,812 3893 1124 29 41 3.65 17 41 16 39

4 Kota Tangerang Selatan 2,093,706 2932 1187 40 47 3.96 47 100 47 100

5 Kab. Lebak 1,279,412 1822 830 46 9 1.08 8 89 9 100

6 Kab. Pandeglang 1,200,512 2521 266 11 7 2.63 1 14 0 -

7 Kab. Serang 1,484,502 2727 599 22 16 2.67 2 13 2 13

8 Kab. Tangerang 3,477,495 5304 3275 62 115 3.51 11 10 8 7

12,203,148 22094 8793 40 271 3.08 103 38 102 38


Column1
80 76

70 62
60
50 46
40 40
40 34
29
30 22
20 11
10
0 Column1
25000
22094

20000

15000

10000 8793 Jumlah Kasus


5304 Tahu Status HIV
5000 3893
2932 2521 2727 3275
964 1619
1276 1124 1187 1822
830
HIV (+)
2613 548
104 4117 4747 98 2667 1 599
162 115
11 271
103
0 HIV (+) mendapatkan A
HIV (+) mendapatkan A
TB - HIV yang mendapatkan PPK 102

TB- HIV yang mendapatkan ART 103

HIV (+) 271

Pasien mengetahui status HIV 8793

Jumlah Kasus 22094

0 5000 10000 15000 20000 25000


2018 (Tw
Kabupaten/Kota 2016 2017
IV)
Kota Cilegon 7 2 5
Kota Serang 12 34 30
Pasien a.n dodi
Kabupaten Serang 13 9 22
husni mubarok di
Kabupaten Pandeglang 2 7 13 RSU Tangsel (STR
Kabupaten Lebak 10 9 7 di STOP dan
Pasien a.n
diagnosa XDR)
Kota Tangerang 8 20 38
roslaini di RSU
Kabupaten Tangerang 12 13 22
Tangsel (sudah
Kota Tangerang Selatan - 53 46
dipindah
Pasien RSU
a.n sahroni
Kota Depok 1 - 1 Cilacap)
di RSDP (setelah
Kodya Jakarta Timur - - 1 dirawat di
Kodya Jakarta Selatan - 1 - Cempaka RSDP,
kembali ke balik
Kodya Jakarta Utara - 2 - Pasien
bogor) a.n yaya
Kodya Jakarta Barat - 1 - cahyaman di
Kebumen - 1 - RSDP (kembali
Bogor - 1 1 ke Tasik)
Tasikmalaya - - 1
TREN KASUS TB DINKES TANGSEL TAHUN 2015-2018
2015 2016 2017 2018

165 163
158
149 150

133 131
129

116
114
110 110
103
98
94 94 9391 92 92
91 9091 90
88 87
82 80
75 75 75 74 73 76 76
72 72
67 68 6868
67 67
65 65
59 61 60 59
55 56 57 56 57 57 55
54 54 52 53
50 49 47
46 47 48 45
45 44 46 46
42 42 43 4341 42 44 42
36 37 37 38 38
33 33 33 32 35 34
32 32 31 30 30
29 27 25
26
22 22 23 21
13

0 00
1. RS As-Sobirin 106

2. RS Buah Hati Ciputat 40

3. RS Buah Hati Pamulang 35

4. RS IMC 416

5. RS Permata Pamulang 206

8 Kota Tangerang Selatan


6. RS Pondok Indah Bintaro 92

7. RSUD Kota Tangsel 1476

8. RS RIS 28

9. RS BBH 228

10. RS Omni 153

Sub total 2780


 Kota Serang
 Kota Tangerang
 Kota Cilegon
 Kabupaten Tangerang
 Setiap Kabupaten/Kota memiliki SDM sebagai
Data Officer
 Riska Gininda Arginnovianty (082130580466)
 Dewi Ayuningtyas
 - Kabupaten Tangerang
 - Kabupaten Serang
 Ancilla Cherisha Illinantyas (082226825268)
 - Kota Tangerang
 - Kota Tangerang Selatan
Dinas Kesehatan Provinsi Banten

2
5
GUBERNUR BANTEN
Dalam rangka menekan laju penularan penyakit
TBC (Tuberkulosis) dan menurunkan angka
kejadian Stunting (gagal tumbuh) di Provinsi
Banten, dengan ini menginstruksikan :

Kepad a. Bupati/Walikota se – Provinsi Banten;


a : b. Seluruh Kepala Perangkat Daerah di Lingkungan
Pemerintah Provinsi Banten;
c. Instansi Vertikal se - Provinsi Banten
d. Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat, Organisasi
Profesi Kesehatan
se-Provinsi Banten;
a. Ketua Asosiasi Perumahsakitan dan Asosiasi Klinik se
UNTUK - Provinsi Banten:
: 2
26 6
KESATU Menetapkan kebijakan dan langkah-langkah sesuai tugas,
fungsi, dan kewenangan masing-masing untuk
mewujudkan :
1. Gerakan Banten Eliminasi TBC (Tuberkulosis) melalui TOSS
(Temukan Obati Sampai Sembuh) Bersama, dengan :
a. Sosialisasi dan edukasi pengendalian TBC (Tuberkulosis)
b. Menemukan orang dengan batuk berdahak
c. Menentukan terduga TBC (Tuberkulosis) dengan pemeriksaan
laboratorium dan klinis di fasilitas pelayanan kesehatan
d. Mengobati semua kasus TBC (Tuberkulosis) sampai sembuh
e. Pengendalian risiko TBC dengan lingkungan dan rumah sehat

27
KEDUA Mengalokasikan
: anggaran daerah dan sumber anggaran lain
yang responsive terhadap upaya pengendalian TBC
(Tuberkulosis) dan cegah Stunting (gagal tumbuh)
KETIG : Khusus kepada:
A 1. Kepala Dinas Kesehatan untuk :
a. Meningkatkan advokasi, pembinaan dan pengendalian
dalam eliminasi TBC (Tuberkulosis) dan cegah
stunting (gagal tumbuh);
b. Meningkatkan kapasitas di fasilitas layanan kesehatan
dalam melaksanakan eliminasi TBC (Tuberkulosis) dan
intervensi cegah stunting (gagal tumbuh);
c. Meningkatkan upaya pencegahan dan pelaksanaan
deteksi dini penyakit TBC (Tuberkulosis) dan
intervensi cegah stunting (gagal tumbuh);
d. Menyusun Rencana Aksi Daerah pengendalian TBC
28
KEEMPAT Para
: Bupati/Walikota untuk :
a. Menyusun dan menetapkan kebijakan daerah yang diperlukan untuk
percepatan
eliminasi TBC melalui TOSS (Temukan Obati Sampai Sembuh) bersama
dan cegah stunting melalui intervensi spesifik dan sensitive di
wilayahnya.
b. Menggerakkan jajarannya untuk memastikan semua masyarakat
mendapatkan
skrinning/penapisan TBC dan tatalaksana sesuai standard dan
mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar kepada remaja
putri, Ibu Hamil dan anak balita .
c. Melaksanakan kegiatan yang mendukung Gerakan Banten Eliminasi
TBC melalui
TOSS bersama dan cegah stunting dengan intervensi spesifik dan
sensitive;
d. Melakukan monitoring dan pengawasan pelaksanaan Gerakan Banten
Eliminasi TBC melalui TOSS Bersama dan cegah stunting dengan
intervensi spesifik dan sensitive serta melaporkan hasil pelaksanaan
29
kepada Gubernur.
KELIMA Ketua Asosiasi Perumah Sakitan dan Ketua Asosiasi Klinik Provinsi Banten
untuk
memastikan seluruh Fasilitas Layanan Kesehatan Swasta mampu
memberikan pengobatan TBC sesuai strategi DOTS (Directly Observed
Treatment Short-course) dan melaksanakan mandatory notification
30
(kewajiban melaporkan Penemuan kasus TBC)
PENGERTIAN, TUJUAN DAN
PENGORGANISASIAN DPPM
(District Based Public Private Mix
(DPPM)
DPPM adalah “Jejaring Dinkes Kab/Kota

layanan tuberkulosis dalam Tim


PPM
satu Kabupaten/Kota yang
Koordinasi
melibatkan fasilitas
kesehatan pemerintah dan
swasta melalui dukungan Fasyankes
Pemerintah/
Fasyankes Swasta/
Private
organisasi profesi dan Public

kemasyarakatan,
dikoordinasikan oleh Dinas Kerja sama

Kesehatan Kab/Kota. Terdiri dari seluruh layanan kesehatan


(pemerintah dan swasta) temasuk apotik
dan laboratorium
1. Umum
Agar semua fasilitas layanan kesehatan yang menangani TB
berpartisipasi dalam jejaring, sehingga semua pasien TB dapat
ditemukan dan diobati sesuai standar dan tercatat dalam SITB
2. Khusus
a. Peningkatan komitment Pemerintah Daerah
b. Peningkatan peran Dinkes Kab/Kota
c. Peningkatan peran organisasi profesi (KOPI TB)
d. Percepatan penemuan kasus TB
e. Peningkatan layanan TB yang berkualitas
f. Pemanfaatan teknologi dan inovasi
1. Pusat (Subdit Tuberkulosis)
a. Menyusun regulasi
b. Mengidentifikasi mitra terkait
c. Melakukan koordinasi dengan seluruhstakeholders
d. Memfasilitasi pembentukan dan berkoordinasi dengan Koalisi Organisasi Profesi (KOPITB);
e. Melakukan pembinaan, monitoring dan evaluasipelaksanaan.

2 Provinsi
. a. Mengidentifikasi mitra terkait
b. Memfasilitasi pembentukan dan berkoordinasi dengan Koalisi Organisasi Profesi (KOPITB);
c. Membangun dan memperkuat jejaring termasuk memfasilitasi kerjasama lintasbatas wilayah;
d. Melakukan pembinaan dan memastikan jejaring layanan TB dikabupaten/kota
e. Melakukan koordinasi dengan seluruh stakeholders PPM di tingkat provinsi maupun
kabupaten/kota;
f. Melakukan monitoring dan evaluasi kekabupaten/kota.
3. Kabupaten/Kota (team DPPM)
a. Dinas Kesehatan
1) Mengidentifikasi fasilitas kesehatan di wilayah setempat;
2) Memfasilitasi pembentukan dan berkoordinasi dengan Koalisi
Organisasi Profesi Indonesia dalam Penanggulangan TB (KOPI
TB) bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi;
3) Membentuk tim DPPM TB;
4) Memfasilitasi pertemuan/workshop dan dukungan teknis bersama
tim DPPM terkait implementasi DPPM;
5) Membangun dan memperkuat jejaring termasuk melakukan
fasilitasi kerjasama lintas batas wilayah;
6) Melakukan pembinaan, monitoring dan evaluasi.
b. Rumah Sakit
1) Melakukan tatalaksana pasien TB sesuai standar;
2) Membentuk Tim DOTS dan memastikan adanya manajer
kasus TB
yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program
TB;
3) Membentuk kolaborasi layanan antar unit (jejaring internal)
di
rumah sakit untuk memastikan layanan TB sesuai standar;
4) Menerapkan wajib lapor kasus pasien TB yang ditemukan
dan diobati melalui sistem pelaporan TB di Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota (SITT, e-TB manager);
5) Terlibat dalam jejaring layanan TB berbasis kabupaten/kota
(DPPM TB) (jejaring eksternal) dengan fasilitas kesehatan
lainnya dan Dinas Kesehatan.
c. Puskesmas
1) Mengidentifikasi DPM, klinik dan fasilitas kesehatan lain di wilayah kerja
puskesmas;
2) Melakukan pembinaan kepada FKTP di wilayah kerja puskesmas;
3) Melakukan penemuan secara pasif di puskesmas dan secara aktif bekerjasama
dengan kader/masyarakat;
4) Memberikan layanan TB mulai dari penemuan kasus sampai pengobatan
secara tuntas;
5) Memastikan pelaksanaan kegiatan terpadu program TB (TB-HIV, TB anak, TB-
DM, dan
lain-lain) di tingkat puskesmas;
6) Membentuk jejaring layanan TB dengan FKTP non puskesmas (DPM, klinik dan
klinik
Lapas/Rutan) di wilayah kerjanya;
7) Melakukan penguatan sistem surveilans TB: memantau implementasi sistem
wajib lapor pasien TB baik di puskesmas maupun di FKTP non puskesmas
(DPM, klinik dan klinik Lapas/Rutan) di wilayah kerjanya melalui sistem
informasi program TB (contohnya WIFI TB, SITT, e-TB Manager);
8) Mendorong pelaksanaan promosi kesehatan dan UKBM.
d. Organisasi Profesi
1) Melaksanakan tatalaksana TB sesuai standar di tempat praktik masing-masing
sebagai praktisi ahli dalam pelayanan langsung pada pasien dan melaporkan
kasusnya ke dalam sistem pelaporan TB di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota;
2) Mendorong terbentuknya jejaring layanan TB baik internal maupun eksternal di
rumah
sakit;
3) Berperan sebagai tenaga ahli/narasumber dan menjadi bagian dalam tim PPM
TB di
kabupaten/kota.
e. Organisasi Kemasyarakatan
1) Mengedukasi masyarakat terkait TB;
2) Melakukan penemuan terduga TB secara aktif;
3) Melakukan pendampingan pasien TB;
4) Membantu advokasi terkait penanggulangan TB kepada pemerintah daerah;
5) Mobilisasi sumber daya.
• Terdiri dari ketua,
sekretaris dan bidang
• Minimal 3 bidang :
Advokasi dan regulasi,
Peningkatan SDM dan
Perencanaan dan
Monev
• Bisa ditambah sesuai
kebutuhan.
3. Bidang Advokasi dan 1. Ketua:
Regulasi: a. Menyusun program kerjaDPPM;
a. Membantu Dinas Kesehatan Kab/Kota b. Mengkoordinasikan pelaksanaan
melakukan advokasi terkait regulasi dan kegiatan
pembiayaan baik kepada pemerintah  DPPM.
daerah, pimpinan fasyankes dan c. Memastikan jejaring layanan TBdi
institusi terkait;
 wilayahnya berjalan dengan
b. Membantu Dinas Kesehatan Kab/Kota
melakukan koordinasi dengan seluruh baik.
2. Sekretaris:
stakeholders PPM di tingkat
kabupaten/kota.
c. Membantu Dinas Kesehatan a. Membantu ketua dalam
Kabupaten/Kota menyusun alur jejaring pelaksanaan
layanan TB di kabupaten/kota
 kegiatan
b. Memberikan dukungan
pelaksanaan
 rencana kerja
c. Mendokumentasikan program
kerja dan
 pelaksanaan kegiatan.
4. Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM): 5. Bidang Perencanaan, Monitoring dan Evaluasi:
a. Membantu Dinas Kesehatan Kab/Kota a. Merencanakan kegiatan DPPM bersumber
mengidentifikasi fasyankes di wilayah dari pembiayaan setempat dan sumber lain
kabupaten/kota; yang tidak mengikat;
b. Membantu Dinas Kesehatan Kab/Kota b. Membantu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
melakukan pembinaan kepada fasilitas melakukan perencanaan, analisis kebutuhan
layanan baik tingkat primer maupun rujukan dan masalah, serta menentukan rencana
dalam aspek program/kesehatan tindak lanjut Program Penanggulangan TB.
masyarakat maupun aspek profesi; c. Membantu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
c. Bersama Koalisi Organisasi Profesi (KOPI dalam memantau pencapaian indikator PPM.
TB) membantu Dinas Kesehatan Kab/Kota
dalam menjaga kualitas pelayanan (quality
assurance/QA).
d. Membantu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
dalam peningkatan kapasitas sumber daya
manusia (antara lain pelatihan) dalam
program penanggulangan TB.
1. Analisa situasi
• Analisis kondisi DPPM di wilayahnya terkait status pembentukan tim DPPM
• Terbentuk/belum terbentuk
• Status keaktifan tim DPPM (aktif/tidakaktif).

2. Identifikasi dan rancangan pembentukan tim DPPM


• Struktur organisasi tim DPPM
• Anggota tim DPPM
• Tugas pokok dan fungsi tim DPPM
• Mekanisme kerja tim DPPM
• Pembiayaan

3. Pengesahan tim DPPM


Tim DPPM TB ditetapkan oleh Kepala Daerah atau Kepala Dinas KesehatanKabupaten/Kota.