Sie sind auf Seite 1von 10

Setiap orang ingin merasakan kesuksesan hidup.

Setiap individu, ingin agar segala perkara dan


urusannya berjalan lancar, bahkan ketika mendapat hambatan, mereka ingin agar hambatan-
hambatan tersebut segera teratasi. Entah dengan cara bagaimana dan seperti apa.

Dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, ada banyak lika dan liku, sebagai hamba Allah
subhanahuwata’ala, manusia tidak bisa lepas dari-Nya, mereka senantiasa ada di dalam
genggaman dan pengawasan-Nya, mukminkah ia, atau kafir. Allah senantiasa membersamai
hamba-hamba-Nya (ma’iyyatullah).

Secara global, ma’iyyatullah terbagi atas 2 bentuk yakni umum dan khusus. Adapun yang umum
adalah dalam bentuk muroqabah (pengawasan). Allah subhanahuwata’ala mengawasi seluruh
hamba-Nya,baik mukmin, munafik maupun kafir.

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada padanya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia
mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang
tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu
yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (lauhulmahfuzh)” (Q.S.
Al-An’am: 59)

Ada pun yang khusus adalah dalam bentuk hidayah, curah atau taufiq, pertolongan, bimbingan,
penjagaan Allah dan lain-lain. Kategori ini Allah khususkan untuk hamba-hamba-Nya dari
kalangan para nabi, rasul, dan orang-orang mukmin lainnya. Untuk kategori kedua ini, ada begitu
banyak contoh nyata yang Allah kisahkan di dalam Al-Qur’an, di antaranya adalah kisah yang
cukup familiar yang sering dikisahkan oleh para da’i saat mengenang momentum hijraturrosul
ke Yatsrib (Kota Madinah).

Kisah lengkapnya sebagaimana dituturkan oleh teman hijrah Beliau, Abu Bakar As-Siddiq
radhiyallahu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahihnya:
“Saya berkata kepada Nabishallallahu ‘alaihi wasallam ketika saya dalam gua,“sekiranya salah
seorang di antara mereka melihat ke bawah kedua kakinya, maka kita akan kelihatan.”
Rasulullah menjawab, “Bagaimana menurutmu, wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang
ketiganya adalah Allah.”

Di atas adalah satu contoh kisah tentang(ma’iyyatullah) kebersamaan Allah subhanahuwata’ala


dengan hamba-Nya yang bersifat khusus kepada orang-orang khusus-Nya (pilihan-Nya).
Kebersamaan Allah dalam bentuk pertolongan kepada Rasulullah dan sahabat Beliau dari
kejaran orang-orang kafir Quraisy yang bernafsu untuk membunuhnya. Mereka menyangka,
ketika membunuh Rasulullah, maka cahaya dakwah tauhidullah akan padam. Mereka menyusun
makar (tipu daya) untuk membunuh Rasul, kekasih Allah, tapi Allah jugalah sebaik-baik
pembalas tipu daya.   
Makna kedekatan Allah dengan hamba-Nya adalah Allah Subhanahu Maha dekat dengan orang-
orang yang berdo’a dan yang bermunajat kepada-Nya, Maha Mendengar do’a dan bisik-bisik
hamba-Nya, dan Allah akan mengabulkan do’a para hamba-Nya kapan saja dan dengan cara apa
saja yang Dia kehendaki, maka Allah Maha dekat dengan ilmu-Nya dan pengawasan-Nya. [3]

Sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta’ala dalam kitab-Nya yang mulia,

‫يبوا لِي‬ ْ َ‫ان َف ْلي‬


ُ ِ‫س َتج‬ ِ ‫يب َد ْع َو َة ال َّداعِ ِإذَا َد َع‬
ُ ‫ج‬ِ ‫يب ُأ‬
ٌ ‫عبَا ِدي َع ِنّي َفِإنِ ّي َق ِر‬ َ َ‫سَأل‬
ِ ‫ك‬ ْ ‫َو ْل ُيْؤ ِم ُنوا بِي لَ َعلَّ ُه‬
َ ‫م َوِإذَا‬
َ‫ش ُدون‬ ‫ر‬
ُ َْ ‫ي‬

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),


bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia
memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.“ (QS. al-
Baqarah: 186)

Sedangkan makna kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya adalah kebersamaan yang sesuai
dengan kemahatinggian-Nya, yang mengandung arti bahwa Allah meliputi semua makhluk-Nya
dengan pengetahuan-Nya, penglihatan-Nya, pengawasan-Nya, pendengaran-Nya, kekuasaan-
Nya dan sifat-sifat maha sempurna Allah lainnya yang merupakan makna Rububiyah-Nya. [4]

Makna tersebut adalah makna yang dijelaskan oleh para Imam ahli tafsir dari kalangan ahlus
sunnah wal jama’ah, ketika menafsirkan firman Allah,

‫ض َو َما‬ِ ‫األر‬
ْ ‫ج فِي‬ ُ َ‫ يَ ْعل‬،‫ش‬
ُ ِ‫م َما يَل‬ ِ ‫اس َت َوى َعلَى ا ْل َع ْر‬ ْ ‫م‬ َّ ‫ة َأيَّا ٍم ُث‬
ِ ‫س َّت‬
ِ ‫ض فِي‬ َ ‫األر‬
ْ ‫ما َواتِ َو‬ َ ‫الس‬
َّ َ َ‫خل‬
‫ق‬ َ ‫ه َو الَّ ِذي‬
ُ
‫ير‬ َّ ‫َأ‬ ُ ‫ما ِء َو َما يَ ْع ُر‬
ٌ ‫ص‬ ِ َ‫ملُونَ ب‬
َ ‫ما تَ ْع‬
َ ِ‫م َوالل ُه ب‬ْ ‫ن َما ُك ْن ُت‬
َ ‫ُم ْي‬ ْ ‫ه َو َم َعك‬
ُ ‫ َو‬،‫ج فِي َها‬ َ ‫الس‬
َّ ‫ن‬َ ‫ل ِم‬
ُ ‫ج ِم ْن َها َو َما يَ ْن ِز‬ُ ‫خ ُر‬ْ َ‫ي‬

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia beristiwaa’
(tinggi berada) di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang ke
luar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama
kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-
Hadid: 4)

Diantara yang menafsirkan adalah Imam Ibnu Katsir rahimahullah:

“Dia maha mengawasi kalian lagi menyaksikan perbuatan-perbuatan kalian, kapan dan di
manapun kalian berada, di darat maupun di laut, di waktu malam maupun siang, di dalam rumah
atau di tempat yang sunyi. Pengetahuan-Nya meliputi semua mahluk-Nya secara menyeluruh,
semua dalam pengawasan dan pendengaran-Nya. Dia mendengar (semua) ucapan serta
meyaksikan (semua) keadaan kalian. Dan Dia mengetahui apa yang kalian tampakkan dan
rahasiakan.” [5]

Pembagian Ma’iyyah Allah

Para ulama membagi ma’iyyah menjadi 2, berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah:
1. Ma’iyyah ‘Ammah (Ma’iyyah Umum)
Adalah kebersamaan Allah dengan seluruh hamba-Nya dalam pengawasan dan
penglihatan-Nya, mengetahui seluruh perbuatan hamba-Nya baik perbuatan yang baik
atau buruk, dan Dzat yang membalas semua perbuatan mereka.
2. Ma’iyyah Khoshshoh (Ma’iyyah Khusus)
Adalah kebersamaan Allah dengan hamba-Nya yang beriman saja, yaitu dengan
pertolongan-Nya dan penjagaan-Nya.

Penggunaan Kata ‘Bersama’ (‫ع‬


َ ‫ ) َم‬Dalam Bahasa Arab

Dijelaskan para ulama yang pakar dalam bahasa Arab1 bahwa kalimat ‘bersama’ (‫ع‬
َ ‫ ) َم‬dalam
bahasa Arab hanya semata-mata menunjukkan tentang kebersamaan secara mutlak, tanpa
mengharuskan untuk saling berdampingan dan bersentuhan atau bercampur. Sebab, kebersamaan
itu bermacam-macam bentuknya:

1.Ada kebersamaan dalam segi tempat, seperti ungkapan seseorang: "Saya sama-sama satu
kampung dengannya."

2.Ada kebersamaan dalam segi masa, seperti ungkapan seseorang: "Saya sama-sama lahir
dengannya."

3.Ada kebersamaan dalam segi kedudukan dan jabatan, seperti ungkapan eseorang: "Saya sama-
sama-sama satu golongan dengannya."

4.Ada kebersamaan dalam segi pembelaan, sebagaimana dalam firman Allah SWT:

"Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."

Pembagian Sifat Maiyah

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa maiyatullah (ma’iyatullah) terhadap makhluk-Nya
terbagi dalam dua bentuk sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

Pertama, Maiyah 'Ammah (maiyah dalam bentuk umum)

Pengertian dari maiyah 'ammah yaitu kebersamaan Allah SWT terhadap seluruh makhluk dengan
ilmu, penglihatan, pendengaran, dan pengawasan-Nya. Disebut maiyah 'ammah karena ia umum
terhadap seluruh makhluk baik yang beriman maupun yang kafir. Di antara ayat yang
menunjukkan tentang maiyah 'ammah adalah beberapa firman Allah SWT berikut.

a. Firman Allah SWT:


Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak tersembunyi dari Allah, padahal Allah
bersama mereka. ketika pada suatu malam mereka mene-tapkan keputusan rahasia yang Allah
tidak ridhai. Dan Allah itu Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS
An-Nisaa' [4]: 108)

Imam Thabari ra menjelaskan tentang maksud dari kalimat "Allah bersama mereka" dalam ayat
ini, yakni Allah SWT melihat dan menyaksikan perbuatan mereka tersebut sekalipun mereka
berusaha menyembunyikannya dari manusia namun tidak tersembunyi bagi Allah SWT.3 Dan
hal tersebut umum untuk semua makhluk, tidak khusus terhadap kelompok tertentu dari manusia.

b. Firman Allah SWT:

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia ber-istiwa’ di atas
‘arsy, Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya, dan apa
yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kalian di mana pun
kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Hadiid [57]: 4)

Imam Thabari dan Ibnu Katsir rhm menjelaskan tentang maksud dari firman Allah SWT "Dan
Dia bersama kalian di mana pun kalian berada" yakni Allah SWT menyaksikan dan mengetahui
di mana pun kalian berada, dan mengetahui pekerjaan, gerak-gerik serta tempat kalian dan Dia di
atas 'arsy-Nya di atas langit yang tujuh.4 Para ulama menjelaskan lagi tentang beberapa fakta
pendukung dalam ayat tersebut:

1.Allah SWT menggabung dalam ayat tersebut antara sifat maiyah dengan sifat istiwa' di atas
'arsy. Artinya, tidak ada pertentangan dalam menetapkan kedua sifat tersebut bagi Allah SWT.
Oleh sebab itu, Allah SWT menyebutkan kedua sifat tersebut dalam satu ayat. Agar dipahami
dengan sebagaimana mestinya dan tidak mempertentangkan antara kedua sifat tersebut.

2.Allah menyebutkan sifat Ilmu "Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang
keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya". Para ulama
menarik sebuah kesimpulan bahwa kebersamaan Allah SWT terhadap makhluk adalah dengan
ilmu-Nya bukan dengan dzat-Nya.

3.Allah SWT menutup ayat tersebut dengan nama-Nya yang mulia al-Bashiir (Maha Melihat)
yang menunjukkan sifat al-Bashr (melihat) "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan".
Para ulama menarik kesimpulan lagi bahwa kebersamaan Allah SWT terhadap makhluk juga
dengan penglihatannya dan bukan dengan dzat-Nya.

4.Dalam ayat tersebut Allah SWT menggabungkan antara sifat Istiwa', dengan sifat Ilmu,
Ma'iyah, dan al-Bashr. Ini menunjukkan masing-masing sifat tersebut saling berhubungan antara
satu dengan yang lainnya. Artinya, sifat Istiwa' tidak bertentangan dengan sifat Ma'iyah,
sekalipun Allah ber-istiwa' di atas 'arsy, tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan Allah
SWT karena ilmu dan penglihatan Allah SWT senantiasa bersama makhluk kapan saja dan di
mana saja mereka berada.

c. Firman Allah SWT


Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di
bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada
(pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan
antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana
pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari Kiamat apa
yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS al-
Mujaadilah [58]: 7)

Imam Thabari ra menjelaskan tentang maksud dari firman Allah SWT "Dia bersama mereka di
mana pun mereka berada" yakni Dia (Allah) di atas 'arsy sedangkan ilmu-Nya bersama mereka.5

Berkata Ibnu Katsir ra, yakni “Allah SWT melihat mereka dan mendengar perkataan, rahasia,
dan bisikan mereka."6 Melalui penjelasan para ulama terhadap kandungan beberapa ayat di atas
dapat kita pahami bahwa maiyatullah terhadap seluruh makhluk secara umum adalah dengan
ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, dan pengawasan-Nya bukan dengan dzat-Nya.

Kedua, Ma'iyah Khaashshah (ma'iyah dalam bentuk khusus)

Pengertian dari ma'iyah khaashshah yaitu kebersamaan Allah SWT terhadap sebagian makhluk
dengan pertolongan, bantuan dan pembelaan. Disebut maiyah khaashshah karena ia khusus
terhadap hamba-hamba yang dicintai Allah SWT. Seperti para rasul-Nya, orang-orang beriman,
orang-orang yang bertakwa, dan orang-orang yang muhsin, sesuai dengan kriteria yang terdapat
dalam dalil-dalil yang menyebutkan sifat maiyah tersebut. Di antara ayat yang menunjukkan
tentang ma'iyah khaashshah adalah beberapa firman Allah SWT berikut ini:

a. Allah SWT bersama para malaikat-Nya dalam membela kaum muslimin ketika Perang Badar.

(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama
kalian, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Akan Aku jatuhkan rasa
ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-
tiap ujung jari mereka. (QS al-Anfaal [8]: 12)

Ayat di atas menjelaskan tentang wahyu Allah SWT kepada para malaikat bahwa Allah SWT
bersama mereka dalam menolong orang-orang beriman ketika menghadapi orang-orang yang
kafir Quraisy dalam Perang Badar. Di antara bentuk pertolongan Allah SWT tersebut adalah
mengutus para malaikat untuk membantu kaum muslimin dan menjatuhkan rasa takut ke dalam
hati orang-orang kafir. Maka dari sisi tersebut dinamakan maiyah khaashshah karena khusus bagi
orang-orang mukmin dan tidak diberikan kepada orang-orang kafir. Hal ini juga menunjukkan
bahwa maiyatullah dalam ayat tersebut bukan dengan dzat-Nya, melainkan dengan pertolongan-
Nya. Sebab, kalau diartikan dengan dzat-Nya maka berarti dzat Allah SWT itu terbagi-bagi pada
makhluk-Nya.

b. Allah SWT bersama Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar ketika keduanya bersembunyi
dalam Gua Tsuur:
Ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah engkau
cemas, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS at-Taubah [9]: 40)

Ayat di atas mengisahkan tentang perjalanan hijrah Rasulullah SAW dan Abu Bakar ash-Shiddiq
ketika keduanya bersembunyi dari kejaran orang-orang kafir Mekkah dalam Gua Tsur. Kala itu,
orang kafir Quraisy hampir saja menemukan Rasulullah SAW. Mereka telah sampai di Gua Tsur
dalam pencarian mereka dan berdiri di atas mulut gua tersebut. Saat itu, Abu Bakar melihat
mereka sedang berdiri di mulut gua dan mencemaskan seandainya mereka melihat ke arah tumit
mereka maka mereka akan melihat Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Rasulullah SAW melihat
kecemasan itu dari wajah Abu Bakar maka Rasulullah SAW memberitahu Abu Bakar bahwa
Allah SWT akan melindungi mereka berdua dan berkata: "Janganlah engkau cemas,
sesungguhnya Allah bersama kita." Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa kebersamaan
Allah SWT dengan Rasulullah SAW dan Abu Bakar dalam gua tersebut bukan dengan dzat-
Nya, melainkan dengan perlindungan dan pertolongan-Nya. Karena, setiap muslim mengetahui
bahwa Allah SWT itu Maha Besar dari segala makhluk, bagaimana mungkin Allah SWT berada
dalam makhluk-Nya.

c. Allah SWT bersama Nabi Musa AS dan Harun AS

Allah berfirman: "Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu
berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu
mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan)." (QS asy-Syu'ara' [26]: 15)

Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua.
Aku mendengar dan melihat" (QS Thoha [20]: 46)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang jaminan pembelaan Allah SWT kepada Nabi Musa AS
dan Harun AS dalam perjalanan dakwah mereka. Allah selalu menjaga mereka dengan
pendengaran dan penglihatan Allah SWT di mana pun mereka berada. Bukan berarti Allah itu
berada dengan dzat-Nya di mana-mana bersama mereka.

d. Allah SWT bersama Nabi Musa ASdan pengikutnya ketika mereka dalam kejaran Fir'aun

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa:
"Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul." Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan
tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS
asy-Syu'ara' [26]: 61-62)

Ayat ini menjelaskan tentang perkataan Nabi Musa AS kepada pengikutnya, tatkala Fir'aun telah
mendekati mereka, lalu pengikut Nabi Musa AS merasa khawatir terhadap pasukan Fir'aun.
Maka Nabi Musa AS menjelaskan kepada mereka bahwa Allah SWT bersamanya, artinya
dengan pertolongan-Nya. Bentuk pertolongan Allah SWT kepada Nabi Musa AS kala itu yaitu
terbelahnya laut sebanyak dua belas jalur, lalu Nabi Musa AS dan pengikutnya menyeberangi
laut tersebut. Kemudian tatkala Fir'aun dan bala tentaranya sedang berada di tengah laut
mengikuti jalur yang dilewati Nabi Musa AS dan pengikut-nya, laut tersebut kembali mencair
dan menenggelamkan Fir'aun beserta semua bala tentaranya.
e. Allah SWT bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik.7

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat
kebaikan. (QS an-Nahl [16]: 128)

f. Allah SWT bersama orang-orang yang sabar.8

Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (QS al-Anfaal [8]: 46)

g. Allah SWT bersama orang-orang yang beriman.

Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang beriman. (QS al-Anfaal [8]: 19) Semua ayat
di atas membantah keyakinan sebagian orang yang berasumsi bahwa dzat Allah ada di mana-
mana.

Berikut ini beberapa pendapat para ulama tentang maiyah:

1. Berkata Ibnu Abbas ra dalam menafsirkan firman Allah (Dan Dia bersama kalian di manapun
kalian berada): "Dia di atas 'Arsy dan ilmu-Nya bersama mereka."9

2. Berkata Ibnu Mas'ud ra ketika menafsirkan firman Allah (Tiada pembicaraan rahasia antara
tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya): "Allah di atas 'Arsy dan tidak tersembunyi bagi-Nya
sedikit pun dari perbuatan kalian."10

3. Berkata Imam Dhahak ra ketika menafsirkan ayat di atas: “Dia (Allah) di atas 'Arsy dan ilmu-
Nya bersama mereka di mana pun mereka berada."11

4. Berkata Imam Malik ra, "Allah SWT berada di atas langit dan ilmu-Nya berada di setiap
tempat. Dan tidak ada tempat yang luput dari ilmu-Nya."12

5. Berkata Imam Ahmad ra ketika menafsirkan firman Allah: (Sesungguhnya Aku bersama
kalian berdua): "Artinya dalam membela keduanya."13

Kemudian beliau berkata lagi dalam menafsirkan firman Allah: (Allah itu bersama orang-orang
yang sabar): "Dalam menolong mereka terhadap musuh-musuh mereka."

Ada kisah di zaman Khalifah Umar bin Khathab ra yang terbiasa mengawasi masyarakat
negerinya. Pada suatu Malam yang telah larut ke peraduannya. Penduduk Madinah telah
berangkat istirahat untuk melepas lelah. Namun di sebuah rumah, seorang ibu tengah berbincang
dengan anak perempuannya. Esok pagi, mereka akan berjualan susu ke pasar. Dengarkan isi
pembicaraan mereka. "Nak, campur saja susu itu dengan air!" perintah sang ibu. "Tidak boleh,
Bu. Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang akan dijual dengan air," jawab anak
gadisnya. "Tetapi semua orang melakukan hal itu, Nak. Campur sajalah! Toh, Amirul Mukminin
tidak melihat kita melakukan hal itu." "Bu, sekalipun Amirul Mukminin tidak melihat kita,
namun Tuhannya Amirul Mukminin pasti mengetahui!" jawab putrinya itu. Umar bin Khathab
yang malam itu tengah berada di dekat rumah tersebut dan mengetahui isi pembicaraan mereka
berdua. Berlinang air mata sang Khalifah, demi menyaksikan ada seorang wanita yang demikian
tinggi keimanannya kepada Allah.

Kisah di atas menunjukkan sebuah kondisi keterjagaan diri karena kedalaman pengetahuan dan
keimanan kepada Allah. Kisah anak wanita penjual susu di atas menandakan betapa ia sangat
mengerti tentang pengawasan Allah atas seluruh makhlukNya. Tiada satupun makhluk yang bisa
melepaskan diri dari pengawasan Allah. Dan masih banyak lagi kejadian serupa yang merasakan
pengawasan yang sangat kuat dari Allah. Sesungguhnyalah Allah senantiasa membersamai
makhlukNya. Kebersamaan Allah (ma’iyatullah) terhadap manusia bisa dirasakan oleh siapapun
yang memiliki fitrah yang bersih. Hanya saja, dalam memahami sejauh mana Allah memberikan
kebersamaan kepada makhlukNya, terdapat cara pandang yang tidak sama di kalangan kaum
muslimin. Kata ma’iyah berasal dari kata ma’a yang artinya bersama. Ma’iyatullah berarti
kebersamaan Allah. Jika kita perhatikan dalam Al Qur’an, ada dua bentuk kebersamaan Allah
(ma’iyatullah) dalam kehidupan maniusia, yang pertama bersifat umum, dan kedua bersifat
khusus. 1. Kebersamaan Allah secara Umum (Al Ma’iyah Al Ammah)

Kebersamaan (Ma’iyah) yang bersifat umum dari Allah ini bersifat mutlak, bahwa tidak ada
satupun makhluk baik di langit maupun di bumi yang lepas dari kebersamaan Allah. Seluruh
manusia, baik yang muslim maupun kafir, shalih maupun durjana, ahli ibadah maupun ahli
maksiat, semua merasakan dan mendapatkan kebersamaan Allah terhadap mereka. Di sinilah
kekuasaan Allah atas ciptaanNya, bahwa Allah senantiasa membersamai mereka. Ada dua jenis
kebersamaan Allah yang diberikan kepada seluruh makhlukNya secara umum:

a. Pengawasan dari Allah (muraqabatullah)

Seluruh ucapan, gerakan, tindakan perbuatan manusia senantiasa berada dalam kontrol dan
pengawasan Allah. Perhatikan ayat-ayat berikut: “Dia Mengetahui apa yang masuk ke dalam
bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik
kepadanya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa
yang kamu kerjakan” (Al-Hadid: 4). Ayat di atas menggambarkan bahwa ilmu dan pengetahuan
Allah meliputi segala sesuatu, juga menunjukkan kebersamaan Allah (wa huwa ma’akum
ainama kuntum) bahwa dimanapun manusia berada pasti Allah membersamai. Tidak ada tempat
yang tersembunyi dari pengawasan Allah, semua dalam jangkauan pengetahuanNya.

b. Perbuatan baik Allah (ihsanullah) Seluruh manusia, tanpa pandang bulu, mendapatkan
perbuatan baik dari Allah kepada mereka. Bumi diciptakan Allah untuk dimanfaatkan bagi
seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir. Udara yang Allah sediakan di muka bumi, dihirup
bukan saja oleh orang yang bertaqwa, tetapi juga oleh mereka yang durhaka. Air yang Allah
berikan dimanfaatkan oleh semua kehidupan, bukan hanya hak bagi hamba yang berjiwa mulia.
Alam semesta dengan segenap fasilitas yang ada telah disediakan dan ditundukkan oleh Allah
bagi semua makhluk tanpa terkecuali. Allah Ta’ala telah berfirman: “Tidakkah kamu
perhatikan, bahwa Allah menundukkan untukmu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa
yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmatNya lahir dan batin” (Luqman: 20).
Inilah perbuatan baik (ihsan) dari Allah untuk semua manusia. Rizki Allah tidak dikhususkan
bagi orang yang bertaqwa. Fasilitas kehidupan telah disediakan dengan sedemikian lengkap,
untuk semua manusia. Oleh karena itu wajarlah jika kemudian Allah menuntut kepada manusia
agar berlaku baik (ihsan) karena Allah telah berlaku baik kepada mereka: “Dan berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu” (Al-Qashash: 77)

2. Kebersamaan Allah secara Khusus (Al Ma’iyah Al Khashah) Allah SWT juga
memberikan kebersamaan secara khusus kepada orang-orang yang beriman dengan benar
kepadaNya. Mereka adalah orang-orang yang mampu mensyukuri seluruh nikmat dan karunia
Allah secara benar. Mereka mampu merespon kebersamaan Allah secara umum (Al Ma’iyah Al
Ammah) dengan positif, oleh karena itu mereka layak mendapat kebersamaanNya secara khusus.
Orang-orang yang kufur nikmat, tidak berhasil merespon kebersamaan Allah secara umum
dengan positif, tidak akan mendapatkan kebersamaan khusus ini. Paling tidak ada dua jenis
kebersamaan Allah secara khusus kepada orang-orang mukmin:

a. Dukungan dari Allah (Ta’yidullah) Allah SWT akan memberikan pembelaan, dukungan dan
penguatan kepada orang-orang yang beriman dengan sebenarnya. Perhatikanlah bagaimana Nabi
Musa tatkala harus menghadapi Fir’aun dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Nabi Musa
dan Harun mengetahui bahwa Fir’aun memiliki banyak tentara yang bisa melakukan tindakan
apapun untuk menghalangi aktivitas mereka berdua. Untuk itulah mereka berdua berdoa kepada
Allah: “Berkatalah mereka berdua: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia
akan segera menyiksa kami atau akan bertambah melampauai batas” (Thaha: 45). Secara
hukum kemanusiaan, kekuatan tentu tidak sebanding. Akan tetapi Allah memberikan
kebersamaanNya secara khusus kepada mereka berdua: “Allah berfirman: Jangan kamu
berdua khawatir sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan Aku
melihat” (Thaha: 46). Banyak sekali kita jumpai bentuk-bentuk pembelaan Allah kepada
hamba-hambaNya. Nabiyullah Ibrahim As. dilindungi Allah dari panasnya api yang dinyalakan
oleh Namrud dan pengikutnya. Musa As. semasa bayi diselamatkan Allah dari pembunuhan
Fir’aun. Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat dibela oleh Allah dalam berbagai peristiwa
peperangan sepanjang sejarah.

b. Kemenangan dari Allah (Nashrun minallah)

Bentuk dukungan Allah dalam kisah harun dan Musa di atas sangatlah jelas. Atas kehendak-Nya,
kemenanganpun didapatkan. Tatkala Fir’aun dan tentaranya mengejar Musa dan umat yang
beriman, hingga akhirnya pasukan Musa terdesak di pantai, secara kalkulasi kemanusiaan sulit
untuk melepaskan diri. Wajar jika para pengikut Musa mengatakan: “Sesungguhnya kita benar-
benar akan tersusul” (Asy Syu’ara: 61). Akan tetapi dengan segenap keyakinan akan
pertolongan Allah, Nabi Musa mengatakan kepada pengikutnya: “Sekali-kali tidak akan
tersusul, sesungguhnya Tuhan bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (Asy-
Syu’ara: 62). Maka dengan kuasa dan kebersamaan-Nya, laut bisa terbelah tatkala Musa
memukulkan tongkat ke atas permukaannya, hingga membentuk jalan yang bisa dilalui oleh
umat yang beriman. Tatkala Fir’aun menyusul, Allah menenggelamkan mereka di lautan.
Demikian mudah Allah memenangkan nabi-Nya di atas musuh-musuh, sebagai bentuk
kebersamaan yang bersifat khusus.
Ada dua syarat pokok datangnya al ma’iyah al khashah dari Allah.

Yang pertama adalah kesetiaan menghamba kepada Allah (Al Abid).

Hanya orang-orang yang tekun beribadah dan menyembah Allah sajalah yang layak
mendapatkan pembelaan dan kemenangan dari-Nya. Bagaimana mungkin seseorang atau
sekelompok orang mengharapkan pertolongan Allah, sementara mereka menyalahi syariat-Nya?

Yang kedua, adalah kesungguhan memperjuangkan agama-Nya (al Mujahid).

Tidak setiap hamba yang rajin beribadah akan mendapat pembelaan-Nya, akan tetapi mereka
yang menunjukkan pula kesungguhan memperjuangkan kebenaran Islam, berhak meraih
kemenangan yang dijanjikan-Nya. Contoh dari para Nabi terdahulu hingga Nabi terakhir
muhammad saw, menunjukkan pertolongan dan kemenangan dari Allah turun berkaitan dengan
kesetiaan mereka mengabdi kepada Allah, dan kesungguhan mereka berjuang di jalan Allah. Jika
ingin mendapatkan kemenangan dari Allah, jadikan diri kita ahli ibadah (al abid) dan senantiasa
berjuang menegakkan kalimat Allah (al mujahid). Tanpa keduanya, kita tidak akan mendapatkan
kebersamaan Allah secara khusus.

Das könnte Ihnen auch gefallen