Sie sind auf Seite 1von 79

Pelayanan Puskesmas dengan

Penerapan Prinsip PPI selama masa


pandemi COVID-19

dr. Ramdhana Zaqifah


dr. Tubagus adriansyah
Internship Puskesma LABUHA periode 2019-2020
SUMBER
• Guidance COVID-19 personal protective equipment (PPE) Updated 18 June 2020.
https://www.gov.uk/government/publications/wuhan-novel-coronavirus-infection-p
revention-and-control/covid-19-personal-protective-equipment-ppe/
.
• Operational Considerations for Personal Protective Equipment in the Context of
Global Supply Shortages for Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Pandemic:
non-US Healthcare Settings.
https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/non-us-settings/emergency-consid
erations-ppe.html

• https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/331498/WHO-2019-nCoV-IPCPP
E_use-2020.2-eng.pdf
• https://www.who.int/publications/i/item/advice-on-the-use-of-masks-in-the-commu
nity-during-home-care-and-in-healthcare-settings-in-the-context-of-the-novel-coron
avirus-(2019-ncov)-outbreak
• Pedoman pencegahan dan pengendalian corona virus deases (COVID 19) .
KEMENKES. Revisi-3 per 16 maret 2020.
https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/COVID
19%20dokumen%20resmi/2%20Pedoman%20Pencegahan%20dan
SUMBER
• Materi komunikasi Risiko COVID-19 Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Diperbarui 2 Maret 2020.
Https://Www.Who.Int/Docs/Defaultsource/Searo/Indonesia/Covi 19/Risk-communic
ation-for Healthcare
Facility.Pdf
• Standar Alat Pelindung Diri (APD) Dalam Manajemen Penangana Covid 19.
Direktorat Jenderal Kefarmasian Dan Alat KEMENKES. Germas
• Standar Alat Perlindungan Diri (APD) Untuk Penanganan Covid 19 Di Indonesia.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19. Diperbarui April 2020. Revisi 1.
SUMBER
• Pedoman umum menghadapi Pandemi covid Bagi pemerintah Daerah.
https://www.kemendagri.go.id/documents/covid-19/BUKU_PEDOMAN_
COVID-19_KEMENDAGRI.pdf

• Petunjuk Teknis pelayanan Puskesmas pada Masa Pandemi covid-19.


Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer direktorat Jenderal Pelayanan
Kesehatan kementerian Kesehatan 2020 . 362.11 Ind P
Http://Www.Yankes.Kemkes.Go.Id/Assets/Downloads/Juknis_pelayanan_
puskesmas_pada_masa_pandemi_covid_19.Pdf
COVID 19
• Penyakit coronavirus (COVID-19) adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2
(SARS-CoV2)

• WHO sejak 11 Maret 2020 telah menetapkan COVID- 19 sebagai pandemi


global dimana terdapat lebih dari 118.000 kasus di 114 negara dan 4291
orang telah meninggal dunia

• Indonesia sendiri menetapkan penyakit COVID-19 sebagai bencana


nasional sejak 14 maret 2020.
Kondisi COVID 19 Saat Ini
• Di dunia
• Di indonesia
• Di maluku utara
• Di Halmahera selatan
Tujuan
Umum :
• Memaksimalkan pelayanan di Puskesmas dengan penerapan prinsip PPI
selama masa pandemic covid-19
Khusus :
• Menguraikan prinsip pengendalian penyakit infeksi dalam pelayanan
kesehatan sehari-hari di puskesmas
• Mengupayakan Penyesuaian Alur pelayan di Puskesmas Labuha Selama
Masa Pandemi COVID-19
• Pembekalan pengetahuan petugas kesehatan
Strategi pencegahan dan pengendalian
infeksi berkaitan dengan pelayanan
kesehatan masa Pandemi COVID-19
PENDAHULUAN

• Konsep Dasar Pencegahan dan pengendalian Infeksi (PPI)


harus dipahami oleh petugas kesehatan atau yang bekerja di
kesehatan

• Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di


Puskesmas bertujuan untuk untuk memutus siklus penularan
penyakit infeksi melalui kewaspadaan standar dan
kewaspadaan berdasarkan transmisi.
6 komponen rantai penularan, yaitu:
Agent COVID-19 , virus severe acute respiratory syndrome
Infectious coronavirus 2 (SARS-C0V-2).

Agent
Infectious

Agent
Infectious

Agent
Infectious
STRATEGI PPI pada
MASA PANDEMI
COVID-19

Menerapkan
KEWASPADAAN
kontak, droplet dan
airbone (aerosol)

Sumber : pedoman pencegahan dan pengendalian corona virus deases (COVID 19)
pedoman kesiapsiagaan meghadapi Corona virus deases (COVID 19) Revisi ketiga maret 2020
1. Menjalankan langkah-langkah pencegahan standar untuk semua
pasien

Kewaspadaan standar meliputi:

a. Kebersihan tangan
Orang dengan gejala sakit saluran pernapasan harus
disarankan untuk
menerapkan kebersihan/etika batuk. Selain itu
mendorong kebersihan pernapasan
melalui galakkan kebiasaan cuci tangan untuk pasien
dengan gejala pernapasan,
pemberian masker kepada pasien dengan gejala
pernapasan, pasien dijauhkan
setidaknya 1 meter dari pasien lain, pertimbangkan
penyediaan masker dan tisu
untuk pasien di semua area.
b. Penggunaan APD sesuai Resiko

Perlindungan Kesehatan Petugas


a. Semua petugas Kesehatan menggunakan APD saat berisiko terjadi
paparan darah, produk darah, cairan tubuh, bahan infeksius atau bahan
berbahaya
b. Dilakukan pemeriksaan berkala terhadap semua petugas kesehatan
terutama pada area risiko tinggi
c. Tersedia kebijakan pelaksanaan akibat tertusuk jarum/benda tajam bekas
pakai pasiend. Tata laksana pasca pajanan
COVID-19 merupakan penyakit pernapasan berbeda dengan
penyakit Virus Ebola yang ditularkan melalui cairan tubuh.
Perbedaan ini bisa menjadi pertimbangan saat memilih penggunaan
gown atau coverall (hazmat).
c. Pencegahan luka akibat benda tajam dan jarum suntik
d. Pengelolaan limbah yang aman
Pengelolaan limbah medis sesuai dengan prosedur rutin
e. Pembersihan lingkungan, dan
sterilisasi linen dan peralatan
perawatan pasien. Membersihkan
permukaan-permukaan
lingkungan dengan air dan
deterjen serta memakai
disinfektan yang biasa digunakan
(seperti hipoklorit 0,5% atau
etanol 70%) merupakan prosedur
yang efektif dan memadai.
2.Memastikan identifikasi awal dan pengendalian sumber

Penggunaan triase klinis di fasilitas layanan kesehatan untuk tujuan identifikasi dini
pasien yang mengalami infeksi pernapasan akut (ARI) untuk mencegah transmisi
patogen ke tenaga kesehatan dan pasien lain.

Dalam rangka memastikan identifikasi awal pasien suspek, fasyankes perlu


memperhatikan:
daftar pertanyaan skrining,
mendorong petugas kesehatan untuk memiliki tingkat kecurigaan klinis yang
tinggi,
pasang petunjuk-petunjuk di area umum berisi pertanyaan-pertanyaan skrining
sindrom agar pasien memberi tahu tenaga kesehatan,
algoritma untuk triase, media KIE mengenai kebersihan pernapasan.
Penempatan pasien

Penempatan pasien termasuk di sini penyesuaian alur guna menempatkan pasien


infeksius terpisah dengan pasien non infeksius. Disamping itu, penempatan
pasien disesuaikan dengan pola transmisi infeksi penyakit pasien (kontak, droplet,
airborne) sebaiknya ruangan tersendiri.
Tempatkan pasien ARI di area tunggu
khusus yang memiliki ventilasi yang
cukup.Selain langkah pencegahan
standar, terapkan langkah pencegahan
percikan (droplet) dan langkah
pencegahan kontak (jika ada kontak
jarak dekat dengan pasien atau
peralatan permukaan/material
terkontaminasi).
Area selama triase perlu memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Pastikan ada ruang yang cukup untuk triase (pastikan ada jarak
setidaknya 1meter antara staf skrining dan pasien/staf yang masuk)
2. Sediakan pembersih tangan alkohol dan masker (serta sarung tangan
medis, pelindung mata dan jubah untuk digunakan sesuai penilaian
risiko)
3. Kursi pasien di ruang tunggu harus terpisah jarak setidaknya 1m
4. Pastikan agar alur gerak pasien dan staf tetap satu arah
5. Petunjuk-petunjuk jelas tentang gejala dan arah
6. Anggota keluarga harus menunggu di luar area triase-mencegah
area triase menjadi terlalu penuh
2 Prosedur
1 dalam
Penyediaan
mencegah
kebijakan
Infrastruktur
3
MELIPUTI mendeteksi

Antisipasi
4 Mengendalikan
infeksi selama
perawatan Efe ALUR PASIEN
kti
kesehatan f SEJAK SAAT
PERTAMA KALI
DATANG SAMPAI
KELUAR DARI
SARANA
PELAYANAN
Kebijakan-kebijakan yang diterapkan
• Penyediaan infrastruktur dan kegiatan PPI berkesinambungan
• Pembekalan pengetahuan petugas kesehatan
• Mencegah kepadatan pengunjung di ruang tunggu
• Menyediakan ruang tunggu khusus umtuk orang sakit dan penempatan
pasien rawat inap
• Mengorganisir penggunanan perbekalan dengan benar dan tepat
• Prosedur dan kebijakana semua aspek ditekankan pada surveilans ISPA
• Pemantauan kepatuhan dan mekanisme perbaikan yang diperlukan
Langkah penting
Identifikasi dini pasien
Tindak pencegahan sepat
dengan gejala ISPA ringan
dan Tepat
atau sedang

Pelaksanaan pengendalian
sumber infeksi

Detail mekanisme : Untuk identifikasi awal semua pasien ISPA digunakan


Juknis pelayanan triase klinis. Pasien ISPA yang diidentifikasi harus
ditempatkan di area terpisah dari pasien lain, dan
puskesmas selama masa segera lakukan kewaspadaan tambahan. Aspek
pandemi covid-19 klinis dan epidemiologi pasien harus segera dievaluasi
dan penyelidikan harus dilengkapi dengan evaluasi
laboratorium
4.Menggunakan pengendalian lingkungan dan rekayasa

Pembersihan area sekitar pasien menggunakan klorin 0,05%, atau H2O2 0,5-1,4%, bila
ada cairan tubuh menggunakan klorin 0,5%:
-Pembersihan permukaan sekitar pasien harus dilakukan secara rutin setiap hari,
termasuk setiap kali pasien pulang/keluar dari fasyankes (terminal dekontaminasi).

- Pembersihan juga perlu dilaksanakan terhadap barang yang sering tersentuh tangan,
misalnya: nakas disamping tempat tidur, tepi tempat tidur dengan bed rails,tiang infus,
tombol telpon, gagang pintu, permukaan meja kerja, anak kunci, dll.
Ventilasi Dan Kualitas
Rekomendasi WHO
natural ventilasi, boleh kombinasi dengan
mekanikal ventilasi (kipas angin) untuk
mengarahkan dan menolak udara yang
tercemar menuju area ruangan yang
dipasang exhaust van/jendela/lubang
angin sehingga dapat membantu
mengeluarkan udara.

Posisi duduk petugas juga diatur agar aliran


udara bersih dari arah belakang petugas ke
arah pasien atau memotong antara pasien
dan petugas.
5. Menerapkan langkah-langkah pencegahan tambahan empiris atas kasus pasien dalam
pengawasan dan konfirmasi COVID-19

a. Kewaspadaan Kontak dan Droplet


1. Batasi jumlah petugas kesehatan memasuki kamar pasien COVID-19 jika tidak
terlibat dalam perawatan langsung.

2. Idealnya pengunjung tidak akan diizinkan tetapi jika ini tidak memungkinkan. batasi
jumlah pengunjung dan batasi waktu kunjungan. Edukasi penggunaan APD dan cuci
tangan

3. Tunjuk tim petugas kesehatan terampil khusus

4. Tempatkan pasien pada kamar tunggal. Ruang bangsal umum berventilasi alami ini
dipertimbangkan 160 L / detik / pasien. Bila tidak tersedia kamar untuk satu orang,
tempatkan pasien-pasien dengan diagnosis yang sama di kamar yang sama. Jika hal
ini tidak mungkin dilakukan, tempatkan tempat tidur pasien terpisah jarak minimal
1 meter.
5. Jika memungkinkan, gunakan peralatan sekali pakai atau yang dikhususkan untuk pasien
tertentu (misalnya stetoskop, manset tekanan darah dan termometer). Jika peralatan
harus digunakan untuk lebih dari satu pasien, maka sebelum dan sesudah digunakan
peralatan harus dibersihkan dan disinfeksi (misal etil alkohol 70%).

6. Petugas kesehatan harus menahan diri agar tidak menyentuh/menggosok–gosok mata,


hidung atau mulut dengan sarung tangan yang berpotensi tercemar atau dengan tangan
telanjang

7. Pastikan bahwa petugas kesehatan yang membawa/mengangkut pasien harus


memakai APD yang sesuai dengan antisipasi potensi pajanan dan membersihkan tangan
sesudah melakukannya.
8.Memberi tahu daerah/unit penerima agar dapat menyiapkan kewaspadaan
pengendalian infeksi sebelum kedatangan pasien.

9. Bersihkan dan disinfeksi permukaan peralatan (misalnya tempat tidur) yang


bersentuhan dengan pasien setelah digunakan.

10. Ketika melakukan prosedur yang berisiko terjadi percikan ke wajah dan/atau badan,
maka pemakaian APD harus ditambah dengan: masker bedah dan pelindung mata/
kacamata, atau pelindung wajah; gaun dan sarung tangan.
b.Kewaspadaan Airborne pada Prosedur yang Menimbulkan
Aerosol
Suatu prosedur/tindakan yang menimbulkan aerosol didefinisikan sebagai tindakan
medis yang dapat menghasilkan aerosol dalam berbagai ukuran, termasuk partikel kecil
(<5 mkm)

Tindakan kewaspadaan saat melakukan prosedur medis yang menimbulkan aerosol:


1. Memakai respirator partikulat seperti N95 sertifikasi NIOSH, EU FFP2 atau setara.
Ketika mengenakan respirator partikulat disposable, periksa selalu kerapatannya (fit
tes).
2. Memakai pelindung mata (yaitu kacamata atau pelindung wajah).Memakai gaun
lengan panjang dan sarung tangan bersih, tidak steril, (beberapa prosedur ini
membutuhkan sarung tangan steril).
4. Memakai celemek kedap air untuk beberapa prosedur dengan volume cairan yang tinggi
diperkirakan mungkin dapat menembus gaun.
5. Melakukan prosedur di ruang berventilasi cukup, yaitu di sarana-sarana yang dilengkapi
ventilasi mekanik, minimal terjadi 6 sampai 12 kali pertukaran udara setiap jam dan
setidaknya 160 liter/ detik/ pasien di sarana–sarana dengan ventilasi alamiah.
6. Membatasi jumlah orang yang berada di ruang pasien sesuai jumlah minimum yang
diperlukan untuk memberi dukungan perawatan pasien.
PELAYANAN DALAM GEDUNG

Pelayanan medik dilaksanakan sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO)


pelayanan yang berlaku
Penyesuaian alur pelayanan Alur Pelayanan
selama masa pandemi
ALUR PELAYAN PASIEN dan
PENGUNJUNG DI FASILITAS KESEHATAN /
PUSKESMAS

Menerapkan triase/skrining terhadap


setiap pengunjung yang datang
Kemampuan petugas triase dalam melakukan anamneses awal merupakan hal yang perlu
dilatih bersama antara tenaga medis dan tenaga kesehatan Puskesmas. Petugas triase
pada saat pengunjung datang, melakukan screening suhu tubuh, memastikan semua
pengunjung menggunakan masker dan telah mencuci tangan kecuali untuk kondisi gawat
darurat. Petugas triase selain menanyakan keluhan atau tujuan pengunjung ke
Puskesmas, harus mampu juga menggali dengan baik hal-hal terkait kemungkinan kasus
COVID-19.
Petugas Puskesmas memberikan pelayanan dengan sepenuh
hati dengan menggunakan komunikasi yang efektif, agar
pengunjung dapat:

1) memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur,


2) mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga,
3) mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti,
4) memahami dan menerima konsekuensi pelayanan,
5)mematuhi instruksi dan menghormati peraturan fasilitas
Kesehatan/Puskesmas dan
6) memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.
•Puskesmas harus mengkondisikan SOP awal dan akhir pelayanan (*) yang
dilaksanakan.
• Ruang tunggu (**) untuk pasien ISPA dan bukan ISPA dikondisikan terpisah,
dengan ventilasi cukup agar sirkulasi udara dalam ruang runggu tersebut
dalam keadaan baik.
• Ruang laboratorium (***) untuk pemeriksaan penunjang terkait kasus COVID-19
dikondisikan terpisah dengan pemeriksaan laboratorium/penunjang lainnya untuk
meminimalkan risiko penularan antar pasien. Pemeriksaan laboratorium di Puskesmas
yang dapat dilakukan pada kasus terkait kasus COVID-19 adalah pemeriksaan rapid
test, bila pada kasus terkait COVID-19 diperoleh hasil pemeriksaan rapid test pertama
adalah reaktif, Puskesmas melakukan pengambilan spesimen (swab nasofaring-
orofaring atau sputum) untuk dikirim guna pemeriksaan RT-PCR ke laboratorium yang
dapat melakukan pemeriksaan RT-PCR.
•Ruang farmasi (****) untuk pengambilan obat terkait kasus
COVID-19 dan bukan terkait kasus COVID-19 dikondisikan harus
tetap memperhatikan prinsip pencegahan dan pengendalian
infeksi.
•Untuk kasus terkait kasus COVID-19 (*****), dilakukan tata
laksana:
a. OTG
1) Bila dengan rapid test pertama hasilnya non reaktif → dilakukan karantina mandiri sesuai
dengan protokol isolasi diri dalam penanganan kasus COVID-19 → pemeriksaan ulang rapid
test dilakukan pada hari ke-10. Bila pada pemeriksaan rapid test kedua hasilnya positif,
dilakukan pengambilan spesimen (swab nasofaring-orofaring, sputum) untuk dilakukan
pemeriksaan RT-PCR 2 kali berturut-turut di laboratorium yang dapat melakukan RT-PCR.

2) Bila hasil pertama rapid test reaktif → karantina mandiri sesuai dengan protokol isolasi diri dalam
penanganan kasus COVID-19 → dilakukan pengambilan spesimen (swab nasofaring-orofaring,
sputum) untuk dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan RT-PCR 2 kali berturut-turut di
laboratorium yang dapat melakukan RT-PCR.

Bila OTG yang terkonfirmasi positif kemudian menunjukkan gejala selama masa karantina:
1) Gejala ringan → isolasi diri di rumah
2) Gejala sedang → isolasi di RS darurat
3) Gejala berat → isolasi di RS rujukan.